Inflasi Kota Denpasar Lebih Rendah dari Nasional

897

BJ Online DENPASAR – Inflasi Kota Denpasar, Bali pada bulan Maret 2016 sebesar 0,06 persen, lebih rendah dibandingkan dengan  inflasi tingkat nasional pada bulan yang sama tercatat 0,19 persen. “Tingkat inflasi kumulatif Januari-Maret 2016 sebesar  0,62 persen dan inflasi tahun ke tahun yakni Maret 2016 terhadap Maret 2015 sebesar 3,41 persen,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, Adi Nugroho di Denpasar, Jumat (1/4).

Lonjakan harga cabai rawit di pasaran yang kian mahal hingga menembus Rp50.000 per kilogram, memberi andil yang cukup besar bagi pencapai angka inflasi di Denpasar maupun Singaraja. Meskipun demikian, capaian total inflasi di dua daerah tersebut di Bali masih di bawah pertumbuhan indeks nasional yang berada di level 0,19 persen pada periode sama.

Pemantauan perubahan indeks harga terhadap sejumlah komoditas di Denpasar dan Singaraja, mencatat inflasi yangterjadi masih rendah. Yakni di Denpasar mencapai 0,06 persen,  sedangkan Singaraja 0,81 persen. Berdasarkan hasil pemantauan harga di Kota Denpasar mengalami Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai120,32.

Inflasi terjadi karena adanya peningkatan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks pada lima kelompok pengeluaran yakni kelompok kesehatan 0,68 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,40 persen, kelompok sandang 0,30 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,18persen, serta kelompok bahan makanan 0,10 persen. Jika dilihat dari komoditas yang memberikan  andil terbesar pencapai inflasi di Kota Denpasar adalah cabai rawit mencapai 0,1136 persen.

Selain itu, inflasi juga disumbang diantaranya oleh sawi hijau yang mengalami lonjakan indeks 0,0920 persen dan mobil yang disebabkan adanya perubahan tarif bea balik nama kendaraan dengan andil 0,0596 persen pada Maret 2016.

Adi Nugroho menambahkan, andil inflasi untuk cabai rawit tidak hanya terjadi di Denpasar, namun juga dialami Kota Singaraja dengan sumbangan mencapai 0,6285 persen.  Selain itu juga disumbang oleh bawang merah dengan andil 0,2823 persen, buncis 0,1054 persen. Sementara Kota Denpasar juga ada sejumlah komoditas yang mengalami penurunan harga atau sebagai penahan inflasi.

Komoditas tersebut antara lain kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,0745 persen, serta kelompok komunikasi, transportasi, dan jasa keuangan mencapai 0,0222 persen. Adi Nugroho menjelaskan,  tahun ini secara umum perkembangan inflasi memang menunjukan tren penurunan. Kondisi itu diharapkan masih akan berlanjut hingga akhir tahun 2016.

Sementara itu, dari 82 kota di Indonesia yang menjadi sasaran survei, tercatat 58 kota diantaranya mengalami inflasi dan  24 kota lainnya mengalami deflasi.  Inflasi tertinggi terjadidi Bukit Tinggi 1,18 persen dan terendah di Singkawang 0,02 persen. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Tanjung Pandan 1,22 persen dan deflasi terendah di Mamuju 0,02 persen. Jika diurutkan dari inflasi tertinggi, maka Kota Denpasar menempati urutan ke 50 dari 58 kota yang mengalami inflasi, ujar Adi Nugroho. (ant)

BAGIKAN