Empat Jembatan Utama di Bogor Amblas

99

BJ Online BOGOR – Kondisi empat jembatan utama, yakni jembatan Sempur, jembatan Setu Duit (Warung Jambu), Jembatan Otista dan jembatan Katulampa, di Kota Bogor makin mengkawatirkan. Pasalnya kondisi jembatan yang rata-rata dibangun pada zaman kolonial Belanda itu terus mengalami penurunan (amblas) akibat seringnya dilalui kendaraan berat, dan faktor usia jembatan yang terus tergerus erosi dan banjir. Kondisi ini jika tidak segera dilakukan perbaikan dikhawatirkan akan menimbulkan korban jiwa.

Kepala Bidang Sarana Fisik, Badan Perencaan Pembangunan Daerah (Bapeda) Kota Bogor, Hj. Lorina mengatakan, Pemkot Bogor sebetulnya sudah lama menyampaikan hal tersebut kepada Pemerintah Pusat maupun Provisi Jawa Barat. Namun sayangnya, sampai saat ini anggaran untuk perbaikan 4 jembatan tersebut belum juga turun.

“Kami sudah ajukan itu ke Pemerintah Pusat, tapi dananya belum juga turun. Mudah mudahan tahun depan, anggaran untuk renovasi 4 jembatan itu sudah bisa turun dan dapat dilakukan perbaikan,” kata Lorina, di Balaikota Bogor, Selasa (5/4).

Menurut Lorina, Pemkot Bogor sendiri tidak mungkin dan mampu untuk melakukan pembangunan 4 jembatan tersebut. Apalagi 4 jembatan utama di Bogor tersebut merupakan akses penghubung di jalan nasional dan provinsi. “4 jembatan ini semuanya melintasi sungai besar yakni Ciliwung dan Cisadane. Kita ajukan dananya untuk alokasi setiap jembatan antara Rp30 miliar sampai Rp40 miliar,” sebutnya.

Dalam kesempatan ini Lorina menjelaskan, bahwa dari hasil kajian tim ahli dan dinas terkait, kondisinya fisik dari 4 jembatan tersebut, saat ini sudah sangat mengkhawatirkan karena terus mengalami penurunan konstruksi 15 hingga 20cm dari konstruski awalnya.

“Amblasnya konstruksi 4 jembatan itu disebabkan oleh factor alam dan manusia. Misalnya, karena terkena erosi dan banjir terus menerus. Banyaknya volume kendraan berat yang setiap hari melintasi jembatan itu, dan yang pasti juga karena factor usia jembatan yang rata-rata sudah mencapi ratusan tahun,” tarangnya.

Walikota Kota Bogor, Bima Arya, pada acara rapat dinas dan evaluasi program Sistim Satu Arah (SSA), lingkar Istana dan Kebun Raya Bogor juga sempat menyampaikan, bahwa pembatasan tonase kendaraan berat seperti truk dan bus yang melintas di Kota Bogor harus dipertegas. Pasalnya, dengan melihat kondisi jalan dan sejumlah akses jembatan utama di Kota Bogor saat ini yang mayoritas usianya sudah mencapai ratusan tahun akan sangat membahayakan bagi keselamatan warga.

“Tidak hanya jalan atau jembatannya saja yang nanti cepat rusak, tapi kalau dipaksakan ini juga sangat berbahaya bagi keselamatan jiwa manusianya juga,” tegas walikota.

Untuk itu Bima Arya mengaku, telah memerintahkan kepala dinas terkait untuk segara menyusun aturan kebijakan baru, yang nantinya akan mengatur dan melarang semua jenis kendaraan berat, dengan tonase tertentu masuk atau melintasi jalan atau jembatan-jembatan utama di Kota Bogor tersebut. “Pak Kadis mohon ini benar-benar diperhatikan,” perintahnya. (bas)