BJ Online JAKARTA – Sejumlah mata uang di kawasan Asia, termasuk rupiah mengalami tekanan terhadap dolar AS akibat harga minyak mentah dunia yang kembali berada di bawah level 40 dolar AS per barel. Nilai tukar rupiah pada Rabu sore melemah tipis sebesar 6 poin menjadi Rp13.227 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp13.221 per dolar AS.

Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada di Jakarta, Rabu mengatakan nilai tukar rupiah melemah.  “Tapi, pelemahan mata uang domestik itu masih relatif terbatas,” ucapnya.

Menurut dia, harga minyak mentah dunia berpotensi kembali menguat setelah munculnya kabar pembekuan produksi minyak mentah dari beberapa anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Terbatasnya pelemahan rupiah itu juga seiring dengan aksi sebagian pelaku pasar uang di dalam negeri yang melakukan aksi ambil untung sesaat setelah rupiah sempat mengalami penguatan hingga ke level Rp13.100 per dolar AS.

Ia optimis harapan perbaikan ekonomi dalam negeri yang masih tinggi dapat mendorong mata uang rupiah kembali bergerak di area positif. Seperti diketahui, pada 4 April 2016 lalu, lembaga pemeringkat asal Jepang, Rating and Investment Information, Inc. (R&I), kembali mengkonfirmasi peringkat Indonesia pada level layak investasi.

Sementara itu, Analis Monex Investindo Futures Putu Agus mengatakan bahwa rilis notulen hasil rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bulan Maret sedang dinanti oleh pelaku pasar uang. “Diharapkan, notulen itu memaparkan lebih rinci mengenai kebijakan bank sentral AS mengenai kenaikan suku bunga sehingga tidak membuat volatilitas pasar keuangan global bergejolak,” tuturnya.

Sementara itu, dalam kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada Rabu (6/4) mencatat nilai tukar rupiah bergerak melemah menjadi Rp13.223 dibandingkan Selasa (5/4) Rp13.217. (ant)

BAGIKAN