Peneliti IPB Kembangkan Bioteknologi Organisme Tanah

1121

BJ Online BOGOR – Peneliti di Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (FAPERTA) IPB, Prof. Dr.Ir Iswandi Anas Chaniago, M.Sc mengatakan, pemanfaatan pupuk organic berkualitas dan teratur pada lahan pertanian terbukti efektif untuk memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah. Pemakain pupuk hayati ini sangat diharapkan mampu meningkatkan produksi pertanian nasional dalam upaya memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.

“Apapun persoalan tanah, sebetulnya itu dapat diatasi dengan pupuk organic yang berkualitas dan tepat. Untuk itu kami di IPB terus melakukan penelitian sehingga berhasil menciptakan sebuah produk pupuk bio organik soil treatment ‘Biost’. Pupuk Biost ini yang merupakan pupuk bioteknologi dengan memanfaakan organisme tanah untuk memperbaiki tanah, meningkatkan produksi dan tentunya menyehatkan tanah,” kata Prof. Iswandi, dalam acara Coffee Morning Pra Orasi Ilmiah 3 Guru Besar IPB, di Kampus Baranangsiang, Kota Bogor, Kamis (7/4).

Guru Besar FAPERTA IPB itu menjelaskan, bahwa Bioteknologi tanah adalah teknologi yang memanfaatkan organisme tanah untuk memperbaiki kondisi tanah yang awalnya rusak atau telah tercemar, tandus dan lainnya, sehingga mampu diolah kembali dengan ketersediaan unsur hara yang cukup dan mampu menghilangkan polutan pada tanah.

“Dengan demikian tanah yang tadinya rusak, tandus dan lainnya itu menjadi sehat, produktif sehingga ini mampu meningkatkan hasil pertanian masyarakat, khususnya bagi para petani di Indonesia,” ujarnya.

Peneliti IPB itu, memaparkan, bahwa bahan organik adalah menyelaraskan muatan ionik dalam tanah. Muatan ionik syarat terjadinya interaksi tanaman dan nutrisi tanah. Tanaman mampu menyerap hara tanah, jika nutrisi berbentuk ion. “Tanaman tidak ‘makan’ bahan organik ataupun pupuk kimia,” ungkap Prof. Iswandi.

Untuk itu lanjutnya, tugas penguraian bahan organik atau pupuk kimia menjadi ion-ion jatuh ke mikroorganisme. “Ini pentingnya pemakaian pupuk hayati bagi tanaman,” tegasnya.

Masih rendahnya pemahaman petani terhadap penggunaan dan pembuatan pupuk organic, serta masih lemahnya dukungan pemerintah dan sistem pertanian yang belum berkelanjutan, mengakibatkan para petani di Indonesia begitu tergantung pada produk pupuk maupun pestisida non organic (kimia). “Pemakian pestisida dan pupuk kimia sangat tidak baik untuk kesehatan tanah maupun manusia dalam waktu jangka panjangnya,” pringatnya.

Berdasarkan data dan hasil penelitiaanya di sejumlah daerah di Pulau Jawa dan Sumatera, pemakain pestisida dan pupuk kimia terbukti mengakibatkan tanah dan lingkungan semakin rusak. “Dampaknya jelas, tanah semakin padat, keras,tandus, susah diolah, produksi menurun, serangan hama meningkat dan seringnya kejadian kasus gagal panen terjadi di negri ini,” terangnya.

Meski begitu, pria bergelar Doktor University of Ghent, Belgia itu menegaskan, bahwa dirinya tidak bermaksud atau ingin ‘mengharamkan’ pemakaian pestisida/pupuk kimia bagi petani Indonesia. “Pupuk kimia masih boleh dipakai, asalkan itu dilakukan secara bijak (seimbang) dengan pengunaan pupuk organic,” pungkasnya. (bas)

BAGIKAN