BJ Online JAKARTA – PT Astra Agro Lestari Tbk (AAL) memprediksi industri sawit akan mengalami perlambatan pada 2016 karena produksinya masih terkena imbas dari kekeringan yang terjadi selama kurang lebih empat bulan pada 2015. “Dampak musim kering pada tahun 2015 akan terasa di tahun 2016. Di awal 2016 ini produksi kami masih megalami kesulitan,” ujar Direktur Utama PT AAL Widya Wirawan usai melakukan RUPS Tahunan dan RUPS Luar Biasa di Jakarta, Senin (11/4).

Widya pun belum berani untuk memprediksi besaran produksi sawit baik dalam bentuk minyak kelapa sawit mentah (CPO) maupun tandan buah segar (TBS) pada 2016. Pada 2015, produksi TBS PT AAL tumbuh sekitar 0,7 persen menjadi  5,6 juta ton dari tahun 2014 sebanyak 5,56 juta ton. Sementara produksi CPO mencapai 1,74 ton.

Pertumbuhan ini sedikit tersendat seiring dengan melemahnya prekonomian dunia dan turunnya harga komoditas kelapa sawit. Pada 2015, harga jual rata-rata CPO perseroan turun 15,8 persen dari Rp8.282 perkilogram menjadi Rp6.971.

Direktur Keuangan PT AAL Rudy Chen mengatakan penurunan harga ditambah kenaikan biaya pinjaman disertai rugi selisih kurs karena kenaikan pinjaman utang membuat laba bersih perseroan anjlok lebih dari 70 persen.

Dari catatan laba sebesar Rp2,5 triliun pada 2014, PT AAL hanya meraup keuntungan Rp619,11 miliar pada tahun berikutnya atau turun 75,3 persen. Pendapatan bersih perseroan juga turun 19,9 persen dari Rp16,31 triliun pada 2014 menjadi Rp 13,06 triliun pada 2015. Pendapatan terbesar berasal dari penjualan CPO dan turunannya yang menyumbang kontribusi Rp11,5 triliun atau 88,3 persen dari total keseluruhan. “Pada tahun 2016 kami akan terus berupaya meningkatkan produktivitas dan efisiensi proses bisnis. Hal itu kami harapkan menjadi pendorong utama untuk meningkatkan kinerja perseroan,” kata Rudy. (ant)

BAGIKAN