Investasi Dapen Cenderung Ke Obligasi

129

BJ Online JAKARTA – Ketua umum Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) Mudjiharno mengemukakan, kondisi pasar saham yang relatif kurang stabil memicu Dana Pensiun (Dapen) cenderung menempatkan dana investasinya dalam bentuk surat utang atau obligasi. “Di saham agak susah menghitungnya, kalau setelah Juni lebih mudah. Data tahun lalu, April mencatatkan hasil positif namun setelahnya yaitu Mei dan Juni mulai turun, saat ini saja indeks harga saham gabungan (IHSG) masih berada di level 4.800 poin, untuk naik ke level 5.000 poin masih susah,” kata Mudjiharno di Jakarta, Senin.

Total nilai kelolaan lembaga Dana Pensiun per Februari tahun 2016 ini sekitar Rp206 triliun. Dana sebesar itu, sekitar 14 persen diinvestasikan ke dalam bentuk saham, 4 persen di produk reksa dana, sebesar 22 persen di obligasi, dan 19,89 persen ditempatkan di dalam Surat Berharga Negara (SBN). “Itu investasi Dana Pensiun yang saat ini ada. Selebihnya, di penyertaan langsung pada aset lain,” paparnya.

Mudjiharno mengharapkan, perbaikan ekonomi, baik global maupun domestik terus berjalan. Dari dalam negeri, fokus pemerintah untuk memperbaiki infrastruktur diharapkan mampu mengundang investor asing masuk untuk menanamkan dananya di dalam negeri.. “Dana-dana asing bisa masuk ke infrastruktur, membaiknya infrastruktur dapat menjadi salah satu fundamental utama untuk memacu ekonomi Indonesia,” katanya.

Apalagi, pemerintah juga mencanangkan untuk memberikan pengampunan pajak atau tax amnesty, kebijakan itu akan menarik semua dana-dana dari luar negeri sehingga bisa digunakan untuk pembangunan di dalam negeri. “Dengan demikian maka perekonomian dapat bergerak yang kemudian akan mendorong ekonomi nasional semakin maju dan indeks harga saham gabungan (IHSG) ikut terkerek naik,” katanya. Di tengah harapan dari dalam negeri yang positif itu, Mudjiharno juga mengharapkan kondisi ekonomi global, terutama dari Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok juga turut membaik ekonominya. (ant)

BAGIKAN