BJ Online JAKARTA – Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Elviana mengatakan Ujian Nasional Berbasis Kompetensi (UNBK) jangan sampai memberatkan siswa. “Saat di ujung masa reses, saya mengunjungi salah satu sekolah yang bagus saat pelaksanaan UNBK yakni SMAN 1 Merangin. Di sekolah tersebut, kepala sekolah menyuruh siswa untuk membawa komputer dan duduk seperti di warung kopi saat mengerjakan soal UN,” ujar Elviana saat rapat kerja dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) di Jakarta, Senin (11/4).

Dia mengatakan UNBK menimbulkan persoalan baru yakni kegalauan siswa untuk memiliki komputer jinjing. Selain itu, nuansa evaluasi jauh berkurang karena siswa duduk berhadapan dan kemudian bisa saling bertanya. Anggota Komisi X lainnya, Laila Istiana, mengatakan UNBK jangan menjadi gengsi sehingga sekolah berlomba-lomba melakukan pengadaan komputer untuk pelaksanaan UNBK. “Padahal seharusnya pengadaan komputer merupakan tanggung jawab pemerintah pusat,” kata Laila.

Kemudian yang terjadi di Gresik,Jawa Timur adalah¬† sekolah berlomba-lomba melakukan pengadaan komputer dan juga mesin genset. Bahkan beberapa sekolah di Gresik menyewa mesin genset untuk mengantisipasi pemadaman listrik. “Bayangkan biaya sewanya saja sehari saja mencapai Rp1 juta,” tambah dia.

Laila meminta pelaksanaan UNBK jangan sampai memberatkan siswa maupun sekolah. Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Kemdikbud, Nizam menyatakan  yang paling penting dalam penerapan UNBK ini adalah saling berbagi sumber daya yang ada. Sekolah yang menyelenggarakan UNBK dapat menggunakan peralatan komputer yang ada di sekolah tersebut.

“Sementara itu, sekolah yang peralatannya kurang, bisa memanfaatkan fasilitas lengkap yang tersedia di sekolah terdekat, terutama bagi sekolah yang memiliki fasilitas berlebih,” kata Nizam. Dengan demikian, UNBK sama sekali tidak memberatkan siswa maupun sekolah. (ant)