BI Umumkan Instrumen Moneter Baru pada Jumat

110

BJ Online JAKARTA – Bank Indonesia akan mengumumkan instrumen kebijakan moneter baru pada Jumat (13/4), kata Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara yang dikonfirmasi Antara, Rabu (13/4). “Ada beberapa hal teknis moneter, yang perlu kami jelaskan dengan lengkap menggunakan data dan kerangka. Jumat akan kami umumkan,” kata Mirza yang dihubungi melalui telepon.

Mirza, yang masih berada di luar negeri, masih enggan membeberkan secara rinci mengenai instrumen kebijakan moneter tersebut.  Informasi mengenai instrumen kebijakan moneter terbaru yang disiapkan Bank Sentral ini sudah beredar di kalangan ekonom dan bankir sejak awal pekan, Senin (12/4).

Ketika dimintai tanggapan pada Selasa kemarin, Direktur PT. Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Panji Irawan mengaku pernah mendengar instrumen kebijakan moneter baru yang disiapkan BI. Instrumen baru itu dikabarkan akan menggunakan acuan bunga “Reverse Repurchase Agreement (Repo)”. “Reverse Repo” merupakan transaksi penjualan Surat Utang Negara dari BI kepada perbankan dengan syarat akan dibeli lagi oleh BI pada jangka waktu tertentu.

Tingkat bunga acuan Repo saat ini berada di 5,75 persen, sedangkan BI rate berada di 6,75 persen. Panji mengatakan jika bunga acuan juga didasarkan pada Repo Rate akan lebih efektif untuk menurunkan suku bunga kredit perbankan. Terlebih pemerintah dan otoritas di sektor keuangan sedang gencar berupaya untuk menurunkan suku bunga kredit perbankan ke satu digit. “Karena akan menggunakan tingkat refrensi baru, ‘second base’, dimana lebih rendah. Ini sudah tepat di atmosfernya,” kata dia.

Seorang ekonom yang terlibat langsung dalam rapat pembahasan dengan BI, membenarkan bahwa Bank Sentral akan mengumumkan instrumen kebijakan moneter terbarunya pada pekan ini.        Namun, dia masih enggan berkomentar lebih jauh mengenai dampak dan motif BI dengan merilis acuan kebijakan moneter terbaru. “Saya sudah dipesan Pak Mirza untuk tidak berkomentar dahulu sampai Jumat, BI secara resmi meluncurkan kebijakan ini,” ungkap ekonom tersebut. (ant)

BAGIKAN