Ekonomi Indonesia Tak Melambat seperti Global

114

BJ Online JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai, perekonomian Indonesia saat ini tak melambat seperti kecenderungan perekonomian global yang sedang dilanda kelesuan.  “Indonesia cenderung keluar dari tendensi perekonomian dunia. Mereka boleh melambat, tapi dalam dua kuartal terakhir, kita makin cepat sendiri,” katanya di Jakarta, Kamis (14/4).

Darmin menjelaskan perekonomian global pada 2016 sedang menuju perlambatan, namun pemerintah berupaya untuk menjaga konsumsi masyarakat dan mendorong investasi agar perekonomian nasional tetap stabil. Ia bahkan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi triwulan I-2016 bisa lebih baik dari triwulan sebelumnya, atau pada kisaran 5,1 persen-5,2 persen, yang didukung oleh pembangunan infrastruktur sejak awal tahun.

“Secara umum, semestinya lebih baik dari kuartal lalu. Mungkin tidak sebagus yang dibayangkan, tapi perkembangan investasi dan pembangunan infrastruktur bisa mendukung ekonomi lebih baik,” katanya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi dalam dua triwulan terakhir cenderung meningkat, yaitu pada triwulan III dan triwulan IV-2015 masing-masing sebesar 4,73 persen dan 5,04 persen.

Meskipun belum tumbuh sesuai potensinya, namun pertumbuhan ekonomi Indonesia yang pada 2015 tercatat 4,79 persen masih lebih baik dari rata-rata pertumbuhan ekonomi di negara maju dan berkembang. Dalam RAPBN-Perubahan 2016, pemerintah memasang asumsi ekonomi makro untuk pertumbuhan ekonomi pada 5,3 persen yang didukung oleh perbaikan konsumsi rumah tangga dan kinerja sektor investasi.

Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi pertumbuhan ekonomi dunia hanya akan mencapai 3,2 persen pada 2016 atau turun 0,2 persen dari prediksi Januari 2016, sebesar 3,4 persen.  Ketua Ekonom IMF Maurice Obstfeld mengatakan dalam konferensi pers tentang Perkiraan Ekonomi Dunia (WEO) di Washington, Amerika Serikat, bahwa penurunan prediksi itu merefleksikan kelesuan ekonomi di berbagai kelompok negara.

Obstfeld mengatakan tren perlambatan tersebut terjadi sejak tahun lalu, yakni penjualan tiba-tiba aset berisiko, peningkatan kekhawatiran pasar, penurunan tajam harga minyak dan komoditas lainnya.

IMF memprediksi negara ekonomi maju, seperti Amerika Serikat tumbuh sebesar 2,4 persen, kawasan Euro (Jerman, Prancis, Italia, Spanyol) 1,5 persen, Jepang 0,5 persen, dan negara maju lainnya di luar G7 sebesar 2,1 persen.

Untuk kelompok negara ekonomi berkembang di wilayah Asia, IMF memprediksi Tiongkok tumbuh mencapai 6,5 persen, India 7,5 persen dan ASEAN plus 5 (Indonesia, Malaysia, Filipina, Vietnam, Thailand) 4,8 persen.  Untuk itu, IMF mengusulkan tiga kebijakan utama untuk mengatasi kelesuan dan menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah kelesuan global, yakni melalui pendekatan moneter, kebijakan fiskal dan perbaikan struktur ekonomi. (ant)

BAGIKAN