BJ Online JAKARTA – Dolar AS menguat karena pelaku pasar mulai mempertimbangkan outlook kenaikan suku bunga setelah proyeksi perbaikan ekonomi global cenderung membaik menyusul data ekspor Tiongkok yang pulih. Nilai tukar rupiah pada perdagangan kemarin sore bergerak melemah sebesar 16 poin menjadi Rp13.173 dibandingkan posisi sebelumnya Rp13.157 per dolar AS.

Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengemukakan, dalam pertemuan kebijakan terakhirnya, pejabat bank sentral AS (Federal Reserve) telah menyoroti ketidakpastian global sebagai faktor utama yang akan mereka pertimbangkan sebelum menaikkan suku bunga.

Namun, ketika risiko perlambatan ekonomi dunia terlihat mulai berkurang, menyusul rilis data perdagangan Tiongkok yang solid dan harga komoditas yang stabil di level 40 dolar AS per barel, pelaku pasar pun kembali berpandangan Federal Reserve akan menaikan suku bunganya.

Ekspor Tiongkok mengalami peningkatan pada bulan Maret sebesar 18,7 persen dari tahun sebelumnya, membaiknya ekspor mengindikasikan perekonomian Negeri Tirai Bambu itu sebagai sinyalemen pertumbuhan. Terpantau, harga minyak mentah dunia jenis WTI crude berada di posisi 41,79 dolar AS per barel dan Brent crude di level 44,27 dolar AS per barel.

Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada mengatakan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah akibat sebagian pelaku pasar uang juga mengambil kesempatan untuk ambil untung setelah mata uang domestik dalam beberapa hari terakhir menguat. “Pelaku pasar memanfaatkan faktor teknikal sebagai celah guna mencari untung sehingga membuat rupiah lajunya menjadi tertahan,” katanya. (ant)

BAGIKAN