Indonesia jangan Abaikan Perkembangan Stok Modal

170

BJ Online JAKARTA – Ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri mengatakan Indonesia jangan sampai mengabaikan perkembangan stok modal atau capital stock karena hal tersebut dapat menjadi ancaman melambannya pembangunan perekonomian negara. “Kita abai mengembangkan capital stock. Modal kita ini banyak dari hasil Belanda. Jauh lebih banyak pembangunan jalan dan rel kereta yang dilakukan Belanda daripada setelah merdeka,” kata Faisal pada diskusi ekonomi “Policy Dialogue: The Middle Income Trap-Indonesia’s Challenge Ahead” di Jakarta, Senin.

Faisal mengatakan jika pembangunan perekonomian negara melamban membuat Indonesia tidak mudah untuk terhindar dari perangkap pertumbuhan ekonomi pendapatan rendah middle-income trap. Ia pun membandingkannya dengan negara yang sudah mampu melewati perangkap pendapatan menengah, yakni Korea Selatan (Korsel).

Berdasarkan Tabel Penn World, stok modal Indonesia pada 1960 memiliki rasio stok modal yang jauh lebih besar terhadap Korsel sebesar 2,57, namun angka tersebut menurun drastis pada 2011 menjadi 0,59. “Pertambahan capital stock kita memang lamban sekali. Indonesia pada 1974 sudah disusul oleh Korea Selatan stok modalnya,” ujar Faisal.

Memasuki 1990-an, stok modal Indonesia secara relatif hanya setengah dari stok modal Korea Selatan. Pada 1991, stok modal sebesar 0,64 kali, dan pada tahun 2000, nilai stok sebesar 0,59 kali dari Korsel. Target ke depan agar Indonesia tidak tertinggal adalah membawa rasio ini ke paritas angka satu dengan harapan perekonomian mampu melewati perangkap pendapatan menengah.

Menurut pakar ekonomi ini, perkembangan stok modal dan produktivitas faktor total harus dapat memacu pertumbuhan ekonomi tinggi berkelanjutan. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat menghindarkan Indonesia dari ancaman  perangkap pendapatan rendah middle-income trap sebesar 80 persen jika realita pertumbuhan tahunan PDB per kapita terus di bawah lima persen. (ant)

BAGIKAN