Peneliti IPB Kembangkan Model Simulasi Pertanian

245

BJ Online BOGOR – Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Handoko, berhasil mengembangkan model simulasi pertanian. Model simulasi ini memodelkan pertumbuhan tanaman dengan memperhitungkan faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhinya, sehingga dapat memprediksi apa yang akan terjadi pada tanaman bila nanti ditanam.

“Dengan model simulasi pertanian ini, maka petani kita akan mampu memilih dan memperkirakan masa tanam yang tepat sehingga ini akan meningkatkan hasil produksi pertanian mereka,” kata Prof. Handoko, dalam keterannya, di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Kampus IPB, Selasa (19/4).

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi, IPB itu menyampaikan, bahwa dirinya tertarik meneliti pemodelan pertanian ini karena kegemarannya berhitung dan merumuskan sesuatu. Aspek yang dilihat dalam pemodelan pertanian ini diantaranya cuaca dan iklim. Iklim dan cuaca suatu daerah pada waktu tertentu akan mempengaruhi hasil produksi pertanian. Dengan pemodelan ini diharapkan dapat memprediksi apa yang terjadi dan mengusahakan produksi maksimum.

“Misal kita bandingkan cuaca di Sumatera dan Jawa Timur. Di Sumatera itu cuacanya lebih basah dibanding dengan Jawa Timur yang kering, sehingga akan lebih menguntungkan jika tanaman kelapa sawit ditanam di Sumatera. Di Jawa Timur lebih baik ditanami pohon jati,” terangnya.

Salah satu penelitian model simulasi pertanian Prof. Handoko, yakni mensimulasikan pola tanaman padi dan membuat peta sawah di pulau Jawa. Pemodelan simulasi peta sawah pulau Jawa ini dibuat berdasarkan data satelit yang ada untuk mengetahui waktu yang tepat untuk menanam padi dan daerah mana yang cocok untuk penanamannya.

Selain penempatan daerah dan waktu yang cocok untuk setiap komoditas, pemodelan simulasi pertanian juga memberikan prediksi pola produksi yang akan datang. “Misalkan sawit, kalau saat ini sawit itu nggak ada airnya dan bunganya tidak tumbuh, dia akan jadi sawit jantan ataupun tidak tumbuh sama sekali. Nah kalau kita coba simulasikan, ini kelapa sawit tahun depan tidak akan mampu memproduksi dalam jumlah yang besar,” katanya.

Prof Handoko berharap, bahwa pemodelan simulasi pertanian ini semakin banyak digunakan dan dapat memberikan manfaat bagi petani Indonesia serta meningkatkan taraf hidup petani Indonesia. “Model simulasi pertanian ini merupakan pengembangan dari bidang agrometeorologi. Yakni ilmu yang melakukan pengaturan dan rekayasa terhadap berbagai sumber daya yang ada seperti air, tanah, dan udara dalam rangka mendukung kegiatan pertanian,” jelasnya.(bas)

BAGIKAN