Pentingnya Pendidikan Seks pada Anak Usia Dini

606

BJ Online BOGOR – Membangun komunikasi yang baik antara orangtua dan anak penting dilakukan. Termasuk dalam menyampaikan informasi dan pendidikan seks yang tepat dan benar kepada anak sejak usia dini.

Psikolog dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Wiwit Litfiani, pada acara seminar Pendidikan Seks Anak Usia Dini, yang dilaksanakan di kantor Balaikota Bogor, mengatakan, bahwa pendidikan seks pada anak sejak usia dini ini menjadi penting dan perlu diingatkan kepada setiap orang tua untuk mencegah terjadinya berbagai kasus kejahatan seksual pada anak.

“Kita tentu prihatin dengan maraknya kasus kejahatan seksual pada anak yang terjadi akhir-akhir ini. Untuk itu pendidikan seks ini penting diberikan kepada anak-anak kita meski mereka masih usia dini,” kata Wiwit, ketika tampil sebagai pembicara dalam acara seminar tersebut, Rabu (20/4).

Untuk itu melalui kesempatan ini, Wiwit Litfiani mengingatkan kepada para orangtua untuk membangun komunikasi yang sehat dan mengajarkan pendidikan moral kepada anak-anak. “Ketika anak-anak merasa diperhatikan dan dilindungi sekalipun pengaruh buruk dari luar datang, mereka akan kembali pada keluarga,” kata dia.

Ketika hubungan komunikasi terjalin baik, maka orangtua akan dengan cepat menyadari perubahan perilaku pada anaknya. “Anak-anak yang sudah terkena pornografi bisa terlihat secara fisik karena pikiran, psikologis dan gerak-gerik mereka bisa terlihat mulai dari tidak semangat, emosial dan mudah tersinggung,” ungkap Wiwit.

Sejak bayi, lanjutnya, bahkan ketika masih dalam kandungan para orangtua sebetulnya sudah harus memberikan pemahaman jenis kelamin sebagai jati diri anak. Sebab bicara seks kepada anak usia dini bukan bicara tentang hubungan suami istri melainkan tentang jenis kelamin sang anak.

“Kalau pemahaman tentang seks ini disampaikan dengan cara yang tepat dan benar tentu itu bukan hal yang tabu disampaikan pada anak,” ujarnya.

Maka dari itu, para orang tua harus mampu menerangkan tentang batas-batasan aurat yang boleh dilihat dan tidak. “Anak usia dini atau remaja merupakan masa-masa kritis sehingga harus terus dirangkul dan diawasi,” sarannya.

Ketua Persatuan Dharma Wanita Kota Bogor, Endah Nurrochmah, selaku ketua panitia sekaligus penyelengara kegiatan tersebut mengatakan, bahwa, seminar ini diselenggarakan atas dasar rasa keprihatinannya terhadap banyaknya kasus kekerasan seksual pada anak yang terjadi di Kota Bogor.

“Kasus kekerasan seks pada anak di Bogor ini sekarang telah menempati urutan kedua setelah KDRT,” ungkapnya.

Untuk itu, dia berharap, melalui seminar ini para ibu-ibu PNS di lingkungan Pemkot Bogor dapat menjaga keluarga masing-masing agar tidak ada anggotanya yang mengalami masalah tersebut. “Kami berharap seminar ini juga bisa memberikan dampak positif, meminimalisir kekerasan seks pada anak sekaligus membangkitkan perjuangan Kartini dikalangan ibu-ibu PNS di Kota Bogor,” jelasnya. (bas)

BAGIKAN