Ribuan Pelajar Antusias Saksikan Film Animasi Sejarah Bogor

481

BJ Online BOGOR – Ribuan pelajar dan mahasiswa di Bogor begitu antusias menyaksikan pertunjukan film animasi berdurasi -/+3 jam, tentang sejarah kotanya, di Gedung Kemuning Gading, Kompleks Pemda Kota Bogor, Selasa (3/5).

Film animasi Sejarah Bogor dengan judul ’Dangiang Dayeh Pakuan’ diputar perdana di Gedung Kemuning Gading sejak Senin (02/5) dan berakhir pada Rabu, (04/05/2016). Pemutaran film tersebut dalam sehari dilakukan selama 3 kali, yakni pada pagi hari mulai pukul 08.30 WIB–10.30 WIB. Siang mulai pukul 12.30-14.30 WIB, dan pada sore harinya pada pukul 15.00-17.00 WIB.

Pemutaran film animasi ini sendiri terselenggara atas kerjasama Dinas Pariwisata Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif (Disparbudkref) Kota Bogor, dengan komunitas Kantin Biskop dan didukung para sponsornya.

Kepala Seksi Kesenian dan Kebudayaan, Disparbudkraf Kota Bogor, Uci Sanusi mengatakan, pemutaran film animasi, tentang Sejarah Bogor di Gedung Kemuning Gading tersebut merupakan upaya dari Pemkot Bogor untuk mendorong tumbuh kembangnya dinia perfilman animasi di kotanya.

“Pemutaran film animasi Sejarah Bogor ini adalah bagian dari program kegiatan yang dilakukan dinas pada pagelaran kesenian di Gedung Kemuning Gading ini. Adapun tujuannya, selain untuk mengenalkan sejarah tentang Bogor kepada para pelajar, ajang ini sekaligus upaya kami dalam memberikan apresiasi kepada para seniman, khususnya para pelaku dan pembuat film animasi di Bogor,” kata Uci.

Uci berharap, dengan diputarnya film animasi tentang Sejarah Bogor ini para generasi muda di kotanya akan lebih tahu dan mengarti tentang perkembangan sejarah kotanya dari masa kemasa, yakni dari zaman kerajaan Padjajaran, kolonial dan perkembangan di masa sekarang ini. “Jangan sampai anak-anak kita itu tahu sejarah daerah lain, sementara sejarah daerahnya sendiri merek tidak tahu,” ujarnya.

Film animasi Sejarah Bogor ‘Dangiang Dayeh Pakuan’ disutradarai oleh Dice Rike Akbar. Film tersebut sebelum resmi dipertontonkan ke publik, ternyata telah mengalami berbagai proses dan editing dari para sejarahwan, budayawan dan seniman di Bogor. “Ini penting agar naskah dan cerita di dalam film animasi ini benar sesuai sejarah sehingga dapat dipertangungjawabkan,” pungkasnya. (bas)

BAGIKAN