Konsumsi Di Luar Rumah: Mengapa Begitu Penting?

28

BJ Online JAKARTA – Dari minuman isotonik hingga es krim, konsumsi di luar rumah memiliki peranan yang penting terhadap sebuah produk.  Dengan melihat data konsumsi dan mengerti kebiasaan yang dilakukan oleh para konsumen di luar rumah yang digabungkan dengan data konsumsi di dalam rumah, para pemain FMCG dapat melihat secara keseluruhan performa penjualan dari sebuah produk atau kategori.

Menurut New Business Development Director – Kantar Worldpanel Indonesia Fanny Murhayati, untuk beberapa kategori minuman atau makanan yang siap dikonsumsi, banyak konsumsi yang dilakukan di luar rumah. Di area perkotaan besar, pada kuartal II 2016, konsumsi yang dilakukan di luar rumah, untuk kategori minuman isotonik, berkontribusi hingga 53% dari total volume penjualan. Penjualan dari konsumsi di luar rumah juga berkontribusi besar pada kategori-kategori lain seperti kopi siap minum (50%), camilan (snack) kentang (49%), minuman soda (45%), cokelat (42%), dan berbagai kategori lainnya.

Saluran perdagangan tradisional seperti pasar dan warung, masih menjadi pilihan utama konsumen dalam membeli berbagai produk makanan & minuman untuk di konsumsi baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Saat ini, pasar tradisional menyumbang hingga 90.2% volume penjualan makanan & minuman FMCG konsumsi di dalam rumah, serta 93.5% volume penjualan makanan & minuman FMCG konsumsi di luar rumah. Hal ini sangat dimungkinkan karena di area perkotaan pun, kita dapat dengan mudah menemukan berbagai saluran perdagangan tradisional seperti warung, pedagang asongan, dan bahkan pasar tradisional.

Banyak hal menarik yang dapat ditemukan ketika melihat profil dari konsumen suatu kategori atau produk. Karena faktanya, setiap kelompok konsumen memiliki kesukaan yang berbeda-beda dalam mengonsumsi makanan & minuman. Contoh yang menarik dapat ditemukan pada kategori cokelat. Semua orang bisa jadi menyukai cokelat, tapi kelompok konsumen mana yang sangat menyukainya?

Berdasarkan data Kantar Worldpanel Indonesia mengenai pembelian untuk konsumsi di luar rumah, anak-anak dan remaja adalah konsumen cokelat terbesar. 48.6% dari total volume (dalam unit) penjualan cokelat, adalah dari kelompok konsumen anak-anak (usia di bawah 10 tahun), diikuti oleh konsumen remaja (usia 11-20 tahun) yang berkontribusi hingga 29.8% dari total volume penjualan.

Lalu muncul pertanyaan, apakah benar wanita lebih banyak mengonsumsi cokelat daripada pria? Jawabannya, ya. Konsumen wanita berkontribusi hingga 55.4% dari total volume (dalam unit) penjualan cokelat di area urban Indonesia.

Dari segi kemasan, 64.1% volume penjualan datang dari kemasan countline yang masih menjadi pilihan utama konsumen ketika mengonsumsi cokelat di luar rumah. Konsumen juga memilih kemasan countline sebagai pilihan utama untuk konsumsi di dalam rumah.

Pada kategori cokelat, kemasan yang dipilih untuk konsumsi di dalam rumah memang sama, namun pada kategori lain, pilihan konsumen untuk konsumsi di dalam rumah maupun di luar bisa berbeda, seperti contohnya pada kategori teh siap minum (RTD Tea).

Konsumen lebih memilih kemasan gelas/cup untuk konsumsi di dalam rumah (kontribusinya hingga 63.5%). Kemasan gelas juga menjadi pilihan utama dalam konsumsi di luar rumah, disamping itu, kemasan botol tidak kalah menariknya, untuk pembelian diluar rumah (sekitar 40% kontribusi)

Managing Director – Kantar Worldpanel Vietnam, Indonesia, dan Filipina Fabrice Carrasco menyatakan, setiap pemain FMCG harus memiliki strategi yang berbeda dan tepat untuk setiap produknya. Ketika akan membeli dan mengonsumsi suatu produk, konsumen dapat memiliki kebiasaan yang berbeda-beda.

Tiga faktor pendorong utama yang sering kali ditemui untuk pembelian produk konsumsi di luar rumah adalah kemudahan, pemenuhan kebutuhan impulsif, dan kebanggaan akan konsumsi suatu produk. Sedangkan untuk konsumsi di dalam rumah, konsumen cenderung lebih rasional: pembelian untuk konsumsi di dalam rumah biasanya didasari oleh kebutuhan pemenuhan yang lebih dalam dan pengetahuan konsumen.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, formulasi produk serta mekanisme promosi dan komunikasi harus dibedakan antara produk untuk konsumsi di dalam rumah ataupun di luar rumah. Meskipun berbeda, namun pemain FMCG tetap harus konsisten dalam berpromosi apabila menggunakan produk yang sama untuk menghadapi kedua tipe konsumsi. (grd)

BAGIKAN