Stabilisasi Harga Penting untuk Penanggulangan Kemiskinan

13

JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menilai stabilisasi harga pangan bergejolak (volatile food) penting untuk membantu upaya pemerintah menanggulangi kemiskinan di Tanah Air. Suhariyanto mencontohkan beras, yang merupakan komoditas penyumbang tertinggi terhadap garis kemiskinan. Stabilnya harga beras setidaknya dapat mencegah meningkatnya angka kemiskinan.

“Stabilisasi harga beras itu menjadi kunci penting supaya tidak ada kenaikan kemiskinan,” ujar Suhariyanto saat jumpa pers di Jakarta, Senin.

Per Maret 2017, komoditi makanan yang memberikan sumbangan terbesar pada garis kemiskinan baik di perkotaan maupun pedesaan pada umumnya hampir sama. Beras sendiri memberi sumbangan sebesar 20,11 persen di perkotaan dan 26,46 persen di pedesaan.

Rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar kedua terhadap garis kemiskinan (11,79 persen di perkotaan dan 11,53 persen di perkotaan). Komoditi lainnya adalah telur ayam ras (3,69 persen di perkotaan dan 3,13 persen di perdesaan) , daging ayam ras (3,61 persen di perkotaan dan 2,23 persen di pedesaan).

Sementara itu, komoditi bukan makanan yang memberikan sumbangan terbesar baik pada garis kemiskinan perkotaan dan pedesaan adalah perumahan, bensin, listrik, pendidikan, angkutan, perlengkapan mandi, dan kesehatan.

Peran komoditi makanan memang masih jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi non makanan terhadap garis kemiskinan, yaitu sebesar 73,31 persen pada Maret 2017. Selama periode September 2016-Maret 2017, garis kemiskinan naik 3,45 persen yaitu dari Rp361.990 per kapita per bulan September 2016 menjadi Rp374.478 per kapita per bulan pada Maret 2017.

Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan, yang diukur menurut garis kemiskinan (makanan dan bukan makanan).

Garis kemiskinan makanan adalah nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan atau setara 2.100 kalori per kapita per hari. Garis kemiskinan bukan makanan adalah nilai minimum pengeluaran untuk perumahan, sandang, pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan pokok non makanan lainnya.

Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan. Metode tersebut dipakai BPS sejak 1998 supaya hasil penghitungan konsisten dan terbanding dari waktu ke waktu (apple to apple). (grd/ant)