LONGGARKAN KEBIJAKAN - Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo membuka ruang melonggarkan kebijakan Bank Sentral guna membantu pemulihan pertumbuhan ekonomi nasional.

JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo membuka ruang melonggarkan kebijakan Bank Sentral guna membantu pemulihan pertumbuhan ekonomi nasional, asalkan laju inflasi yang sudah di level tiga persen terus terkendali. Agus di Jakarta, Jumat, mengatakan hal tersebut, setelah sembilan bulan berturut-turut BI menahan pelonggaran suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate di level 4,75 persen.

“BI lihat inflasi yang terjaga. Kita akan betul-betul amati, kalau seandainya situasi terus menujukkan kondisi yang terjaga, tidak tertutup kemungkian untuk BI melakukan pelonggaran,” kata Agus di Kantor Pusat BI.

Agus tak menyebutkan ruang pelonggaran tersebut apakan akan ditempuh melalui kebijakan suku bunga moneter atau makroprudensial. Ruang pelonggaran kebijakan terbuka untuk memberikan stimulus terhadap perekonomian, yang dia akui pada triwulan kedua, kondisi ekonomi cukup tertekan.

Setelah tumbuh 5,01 persen (yoy) pada triwulan I 2017, BI melihat perekonomian di triwulan II 2017 akan lebih tinggi dari triwulan I namun lebih rendah daripada ekspetasi awal BI sebesar 5,1 persen.

Bank Sentral, terus mencermati data-data perekonomian. Ruang pelonggaran Bank Sentral yang asalnya diperkirakan banyak kalangan akan tertutup tahun ini, beralih menjadi terbuka, mengingat laju inflasi sebagai sasaran utama BI terus menurun.

Pada Juli 2017, inflasi tahunan berada di 3,88 persen (yoy) atau di bias bawah sasaran inflasi BI di 3-5 persen. Bahkan, BI mengamini terdapat peluang inflasi tahun ini bisa di kisaran tiga persen, setelah di awal tahun BI memproyeksi inflasi tahun ini akan berada di 4,3 persen, karena tekanan inflasi dari kelompok tarif yang diatur pemerintah (administered prices) terus mereda.

“Sebelum tiga bulan lalu (Mei 2017), dibandingkan sekarang, inflasi terjaga. Kita ketahui sumber inflasi yang dikendalikan pemerintah, mungkin ada penyesuaian, yang dalam arti tidak memberikan tekanan inflasi. Kita melihat sumber sumber inflasi terjaga.” ujar Agus.

BI akan mencermati data-data ekonomi dan makro dan memutuskan kebijakan Bank Sentral pada Rapat Dewan Gubernur yang dijadwalkan pada 21-22 Agustus 2017. Sebagai gambaran, tahun ini, BI beberapa kali memberikan stimulus terhadap perekonomian, namun belum melalui pelonggaran suku bunga kebijakan moneter.

Di perbankan, BI memberikan stimulus dengan merelaksasi aturan Giro Wajib Minimum-Primer yang sebesar 6,5 persen, menjadi Giro Wajib Minimum-Primer Rata-Rata untuk 1,5 persen dan lima persen tetap.

BI juga masih meringankan syarat tambahan modal bank berupa Countercyclical Capital Buffer (CCB) sebesar nol pesen, agar perbankan leluasa ekspansi. (grd/ant)