Tarif Navigasi Naik, Ini Harapan AirAsia Indonesia

67

JAKARTA (Bisnis Jakarta) – AirAsia Indonesia tidak keberatan jika pemerintah akan menaikan tarif jasa navigasi penerbangan yang saat ini dikendalikan AirNav Indonesia. “Nantinya saat kenaikan harga sudah berlaku, kualitas pelayan jasa penerbangan juga dapat meningkat,” kata President Director of Indonesia AirAsia, Dendy Kurniawan usai acara coffee morning and breakfast meeting sektor Perhubungan Udara yang di Tangerang, Selasa (24/7).

Acara dihadiri Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso, para direktur di lingkungan Ditjen Perhubungan Udara, para Direktur maskapai penerbangan nasional, Direktur Angkasa Pura I dan II,  Direktur AirNav Indonesia,  Ketua asosiasi maskapai penerbangan sipil dan stakeholder serta asosiasi penerbangan lainnya.

Sejatinya kalau memang ada kenaikkan biaya itu harus diikuti dengan peningkatan kualits pelayanan. Kemudian, kata Dendy, AirNav juga diharapkan dapat meningkatkan invetasi di sektor peralatan serta sistem yang digunakan untuk mengatur penerbangan. Dengan sistem yang diperbarui, lalu lintas pesawat udara setiap jamnya dapat bertambah yang akan meningkatkan jam penerbangan maskapai sehingga dapat meningkatkan pendapatan AirAsia. “Sekarang kan separasi orang landing jaraknya masih 5 atau 6 nautical mile. Dengan adanya perubahan sistem, upgrade, sistem yang advanced, prosedur, peralatan, mungkin bisa lebih banyak dari nautical mile. Jadi pesawat bisa terus terbang,” kata Dendy.

Kenaikan jasa layanan berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor KP 853 tentang Penetapan Biaya Pelayanan Jasa Navigasi Penerbangan (PJNP).

Untuk usulan penyesuaian biaya PJNP en-route domestik dari Rp 3.000 secara bertahap menjadi Rp 4.000 per route unit dimulai pada 23 Juni 2018.

Kemudian mulai 21 September 2018 menjadi Rp 5.000, mulai  20 Desember 2018 menjadi Rp 6.000, dan mulai 1 Januari 2019 menjadi Rp 7.000.

Baca Juga :   Sama di Mata Hukum, PDIP Komitmen Ayomi Aliran Kepercayaan

Sedangkan untuk besaran tarif PJNP untuk penerbangan en-route internasional yaitu 65 sen dollar atau sekitar Rp 9.000 dengan nilai kurs dollar sebesar Rp 13.850.

Banyuwangi-Kaula Lumpur

Dendy juga mengungkapkan, AsirAsia tertarik untuk membuka rute Banyuwangi-Kuala Lumpur menyusul potensi wisata di daerah itu yang makin diminati. “Kalau Banyuwangi kita memang sudah survei. Hanya saja untuk saat ini sepertinya runway-nya belum cukup untuk melayani A320. Jadi kita menunggu pengembangan yang sedang dilakukan Angkasa Pura II,” kata Dendy.

Hal yang menjadi daya tarik lain bagi AirAsia untuk mengembangkan penerbangan ke Banyuwangi, terkait rencana pengembangan bandara dengan konsep Low Cost Carrier (LCC). Hal ini sejalan dengan kosep AirAsia yang juga sebagai maskapai LCC. “Kalau dari pariwisata, terus terang bagus sekali,” tegas dia.

Seperti diketahui, tidak hanya Banyuwangi, AirAsia dalam waktu dekat akan membuka rute internasional baru ke Indonesia, yaitu Silangit-Kuala Lumpur. “Kalau untuk ke Silangit tunggu sebentar lagi, nanti yang akan operasikan AirAsia Malaysia. Karena memang rotasi pesawatnya dari sana yang pas, itu tetep satu group kita,” pungkasnya.  (son)