Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Ar-Rohman, Kota Bogor, Ustadz Wahyu, saat menyampaikan tausiahnya di masjid At-Taqwa Balikota Bogor

BOGOR (Bisnis Jakarta) – Masyarakat khususnya umat muslim di Kota Bogor dimimbau lebih bijak dalam mensikapai segala perbedaan yang terjadi di tengah masyarakat. Termasuk dalam menentukan pelaksanaan Hari Raya Idul Adha (1439 H) tahun ini. “Kalau ada perbedaan, sebaiknya hal itu tidak perlu dibesar-besarkan. Sebab mau hari ini atau besok, itu sama saja. Yang terpenting adalah niat dan tujuannya dalam melaksanakan sebuah ibadah,” kata Ustadz Wahyu, dalam tausiahnya di Masjid At-Taqwa, Kompleks Balaikota Bogor. Selasa, (21/08).

Maka dari itu, ia mengajak sekaligus mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk bijak dalam menyikapi perbedaan tersebut dan tidak perlu dipermasalahkan karena hal tersebut bersifat ijtihad. “Tidak perlu diperdebatkan tapi harus konsisten. Jika ada yang meyakini Senin (20/08) kemarin adalah hari Arafah atau 9 Dzulhijjah kemudian puasa Arafah, maka hari ini, Selasa (21/08) harus sholat Idul Adha. Jadi, silahkan konsisten saja,” tegasnya.

Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Ar-Rohman, Kota Bogor itu menjelaskan, Idul Fitri yang jatuh pada 1 Syawal merupakan hari pertama peletakan batu pertama bangunan Islam sedangkan Idul Adha merupakan batu terakhir selesainya bangunan Islam. “Pada saat menjalankan haji wada diturunkan Surat Al-Maidah ayat 3 sebagai ayat terakhir yang sebagian artinya berbunyi pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu,” kata Ustadz Wahyu.

Sebelum ayat ini turun banyak nikmat yang diturunkan Allah SWT. Melalui Surat Al Maidah ayat 3 ini Allah SWT menerangkan, hari ini Kucukupkan kepada mu nikmat Ku. Jadi nikmat banyak yang diturunkan sebelumnya dianggap belum sempurna dan tidak cukup. Dan apa yang mencukupkan dan menyempurnakannya adalah nikmat agama. “Disisi Allah SWT semua nikmat yang ada tidak akan cukup bahkan dianggap masih kurang jika tidak ada agama yang merupakan nikmat terbesar dan tidak bisa dinilai dengan materi atau dengan apapun,” jelasnya. (bas)