Teknologi Pengereman Ranmor, Tingkatkan Aspek Keselamatan

    30
    JAKARTA (Bisnis Jakarta)- Kementerian Perhubungan sebagai lembaga yang mengampu pilar ke-3 (Kendaraan yang berkeselamatan) dari Rencana Umum Nasional Keselamatan Jalan, terus mengupayakan peningkatan keselamatan, salah satunya melalui teknologi pengereman kendaraan bermotor. "Upaya peningkatan keselamatan juga dapat dilakukan melalui teknologi kendaraan, salah satunya adalah penggunaan Antilock Brake System (ABS) dan Electronic Stability Control (ESC),” kata Direktur Pembinaan Keselamatan Perhubungan Darat, Risal Wasal, ketika mengawali Focus Group Discussion (FGD) Sistem Keselamatan Pada Kendaraan Bermotor Berupa ABS dan ESC, di Jakarta, Senin (24/9).

    Antilock Break System (ABS) adalah sistem pengereman antilock yang dirancang untuk karakteristik pengereman dari kendaraan roda dua dan dapat disesuaikan untuk berbagai macam model sepeda motor dengan kapasitas kecil hingga sepeda motor berperforma tinggi. Ini mendukung pengendara saat pengereman, bahkan dalam hal pengereman keras atau di jalan licin. Antilock Break System (ABS) dapat mencegah penguncian roda, menjamin stabilitas kendaraan dan deselerasi optimal saat pengereman.

    Sedangkan Electronic Stability Control (ESC) adalah sebuah teknologi terkomputerisasi yang bertujuan untuk meningkatkan keamanan dari sisi pengendalian kendaraan bermotor dengan cara mendeteksi dan meminimalisir slip. Ketika kontrol ini mendeteksi adanya kehilangan kontrol pengendalian, maka dengan otomatis sistem ini akan membantu rem untuk mengendalikan kendaraan. Sistem pengereman langsung berjalan ke masing-masing roda, rem roda depan akan mencegah oversteer dan rem roda belakang mencegah understeer.

    Berdasarkan Data Kecelakaan dari Kepolisian jumlah kejadian kecelakaan pada tahun 2017 adalah sebanyak 103,649 kejadian dengan korban meninggal sebanyak 30,684 orang. Dari data tersebut terlihat bahwa tingkat kecelakaan lalu lintas jalan di Indonesia saat ini masih cukup tinggi dan sampai saat ini yang menjadi penyebab utama adalah faktor manusia. Risal mengatakan, “Angka tersebut merupakan angka yang sangat besar dan harus ada upaya-upaya yang harus dilakukan pemerintah untuk menurunkan tingkat fatalitas akibat kecelakaan tersebut.” Risal melanjutkan, “Jika tidak ada langkah-langkah penanganan yang segera dan efektif, diperkirakan korban kecelakaan akan meningkat.”

    Risal juga mengingatkan, “Selain teknologi kendaraan, keselamatan jalan tidak akan mungkin terwujud bila tidak diawali dari diri kita sendiri, lingkungan keluarga dan lingkungan kerja sehingga akhirnya terwujud menjadi budaya dan peradaban bangsa.”

    Kegiatan ini merupakan salah satu langkah aksi nyata dalam penanganan keselamatan jalan sesuai dengan Dekade Aksi Keselamatan Jalan Indonesia 2011- 2020.

    Bertindak selaku moderator dalam FGD tersebut yaitu Kasubdit Uji Tipe Kendaraan Bermotor, Ir. Dewanto Purnachandra, dengan narasumber dari Bappenas, UI, dan PT. Bosch Indonesia. Sementara tim pembahas hadir dari KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi), Korlantas POLRI, Gaikindo, dan AISI (Asosiasi Industri Sepedamotor Indonesia). (son)