Walikota Bogor Bima Arya, bersama Direktur Manajemen Aset PT KAI, Dodi Budiawan, saat meninjau lokasi penataan pembangunan di sekitar stasiun Bogor.

BOGOR (Bisnis Jakarta) – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor sepakat menggandeng PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk melakukan penataan dan sinkronisasi pembangunan di kawasan stasiun Besar Bogor. Upaya tersebut dilakukan untuk menunjang program penataan sistim tranportasi yang tengah di lakukan di Kota Bogor.

Walikota Bogor, Bima Arya, mengatakan terkait program penataan di sekitar stasiun Bogor sekarang ini pihaknya selain melakukan koordinasi lintas sektor, Pekot Bogor bersama PT KAI juga terus melakukan koordinasi untuk sinkronisasi desain penataan pembangunan yang akan dilakukan di kawasan tersebut.

“Ya, intinya kita ingin menyelaraskan. Tidak bisa jalan sendiri-sendiri. Harus terintegrasi semua. Ini kan salah satu prioritas utama dari Pemkot selain Pasar Bogor dan sekitarnya, juga kawasan Stasiun dan sekitarnya. Kita padukan semuanya. Tema besarnya adalah penataan dan revitalisasi kawasan Stasiun dan sekitarnya,” kata Bima Arya. di Balaikota Bogor. Selasa, (25/09)

Pada kesempatan itu Bima juga mengaku sangat menyambut baik langkah dan gagasan dari PT KAI untuk melakukan pembenahan aset yang ada, khususnya di Stasiun Bogor. “Kios-kios yang berdiri di lahan PT KAI sudah dibongkar. Langkah selanjutnya akan ditata dan dibangun lahan parkir agar tidak semrawut. Selain di Nyi Raja Permas, ada juga lahan kosong milik PT KAI yang cukup luas di kawasan Paledang. Akan di bangun park and ride juga di sana,” jelasnya.

Setelah lahan parkir terbangun, lanjut Bima, akan dievaluasi pula sirkulasi pejalan kaki dari dan menuju Stasiun. “Pintu utama stasiun yang dulu (Nyi Raja Permas) akan dihidupkan kembali. Nanti tidak ada lagi pintu Mayor Oking. Akan dibuka setelah tempat parkirnya siap. KAI juga berencana membuat skywalk yang akan menghubungkan kawasan Stasiun dan Paledang. Skywalk itu selain bisa digunakan sebagai sirkulasi penumpang juga bisa untuk menampung pedagang kaki lima seperti di Cihampelas Bandung,” terangnya.

Walikota Bogor itu menyampaikan bahwa untuk desain kawasan Stasiun Bogor nya sendiri akan disinkronkan dengan apa yang menjadi aset Pemkot Bogor. “Bulan Oktober nanti insa Allah kita akan mulai ambil alih Taman Topi. Kami akan kembalikan menjadi ruang terbuka hijau menyatu dengan Masjid Agung lalu tembus dengan Stasiun. Jadi ini dalam waktu dua tahun wajahnya akan baru, tertata,” tegas Walikota Bogor.

Direktur Manajemen Aset PT KAI Dodi Budiawan dalam kesempatan itu juga sepat menyampaikan bahwa pihaknya saat ini belum menghitung berapa nilai anggaran yang akan digunakan untuk penataan kawasan Stasiun Bogor. “Yang aset KAI pastinya pakai anggaran KAI. Begitu juga dengan Pemkot. Berapa anggarannya? belum tahu. Soalnya kami akan matangkan dulu konsepnya, baru kita berhitung. Kalau Pemkot oke, kita detailkan,” terang Dodi.

Menurut Dodi, disekitar stasiun Bogot setidaknya ada 4 titik kemacetan lalu lintas yang akan menjadi sekala prioritas, yakni di Jalan MA Salmun, Jl.Kapten Muslihat, Jl. Mayor Oking dan Jalan Dewi Sartika. “Jadi, program singkro nisasi penataan ini juga salah satu formula untuk mengurai titik macet di kawasan itu,” tegas Dodi. (bas)