Generasi Milenial Dimudahkan Miliki Rumah, Ini Syaratnya

    47
    JAKARTA (Bisnis Jakarta)-
    Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Pupera) Basuki Hadi Mulyono mengatakan, pemerintah akan membuat skema khusus agar  generasi milenial lebih mudah mendapatkan kredit kepemilikan rumah (KPR). Salah satunya tidak ada batasan gaji untuk pembelian rumah. "Saat ini Kementerian Pupera bersama Menteri Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang  melakukan pembahasan tentang skema khusus agar generasi  milenial lebih mudah mendapatkan KPR. Salah satunya tidak ada batasan gaji untuk pembelian rumah,” kata Basuki saat acara HUT KPR BTN ke-42 di Jakarta, Senin (10/12).

    HUT KPR BTN ke-42 diisi dengan acara talkshow bertajuk Spirit of KPR Growing with Millenials. Hadir sebagai nara sumber diantaranya, Dirut BTN Maryono, Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Erwin Haryono, Dirjen Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR, Khalawi Abdul Hamid serta ratusan undangan dari generasi milenial.

    Basuki mengatakan, skema KPR untuk milenial ini diharapkan selesai sebelum akhir tahun 2019, sehingga pada tahun 2019 sudah bisa dijalankan. Menurutnya, meskipun KPR khusus milenial ini disubsidi pemerintah, namun sangat berbeda dengan program pemerintah dalam fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan ( FLPP). Dijelaskan Basuki, bila di FLPP, persyaratannya harus memiliki gaji tetap antara Rp 4 juta hingga Rp 7 juta, namun KPR milenial ini tidak ada batasan gajinya.

    Selain itu untuk ukuran rumah milenial ini, jelas dia, tidak lagi hanya 36 m2 tetapi bisa lebih. Adapun bunga KPR-nya di bawah 5 persen, dengan uang muka hanya 1 persen. "Kalau rumahnya ukurannya tidak lagi 36 m2  tapi bisa lebih,  bunganya tidak 5 persen tapi bisa diturunkan dari situ, kemudian uang muka hanya 1 persen,” tegasnya.

    Menurut Basuki, diperkirakan dengan ada skema baru maka permintaan rumah pasti bertambah. Dapat dipastikan subsidi untuk perumahan tahun 2019 akan meningkat hingga dua kali lipat. "Dampak dari pembeli perumahan milenial  akan besar. Walaupun nanti anggaran subsidi akan meningkat hingga 2 kali lipat, itu tidak masalah sih, karena ini anjuran dari Presiden untuk penyediaan rumah untuk kaum milenial, ya kita tinggal jalankan saja. Kan tugas kita menyediakan rumah dan agar mereka tidak memikirkan dunianya sendiri,” tegasnya.

    Sektor Properti

    Sementara itu, Dirut BTN, Maryono mengatakan, BTN menilai milenial bukan hanya menjadi objek tapi juga subjek yang akan menjadi pendorong utama sektor properti. "Dengan proyeksi pertumbuhan jumlah penduduk berusia produktif khususnya generasi milenial, Bank BTN berupaya mengoptimalkan peran mereka di sektor properti baik dari sisi supply maupun demand,” tegasnya.

    Menurut Maryono, dari sisi demand, BTN sudah meluncurkan program KPR Gaeesss  dengan fitur yang sesuai dengan kemampuan finansial milenial. Sementara dari sisi supply kami mengajak milenial menjadi entrepreneur di bidang properti lewat pelatihan atau workshop yang disiapkan Housing Finance Center (HFC) dari BTN.

    Dipaparkan, pengembangan bisnis properti 2019, lanjut Maryono, tidak akan lepas dari peran milenial baik dari sisi supply dan demand properti sehingga pelaku bisnis properti dan perbankan harus dapat mengatur strateginya menyesuaikan dengan selera milenials.

    Salah satu acuan memotret selera milenial antara lain dengan riset. Berdasarkan riset dari HFC terhadap 374 responden dari generasi milenial, sebanyak 43 persen menginginnkan rumah satu lantai yang tidak terlalu luas dengan halaman, dan hanya sebesar 29 persen yang menginginkan rumah satu lantai berukuran cukup luas tanpa halaman. Sementara sisanya menginginkan rumah dua lantai.

    Sedangkan dari sisi harga properti, Maryono menambahkan, sama halnya dengan generasi lain, rumah dengan harga terjangkau menjadi pilihan utama 46,8 persen responden, sementara pemilihan properti berdasarkan lokasi hanya menjadi sasaran utama bagi sekitar 36,6 persen responden. "Dari riset tersebut artinya milenial masih membutuhkan rumah tapak untuk mereka jadikan tempat tinggal atau investasi dan harganya harus terjangkau,” kata Maryono.

    BTN optimistis dengan strategi yang ada akan dapat menggapai demand milenial dari seluruh lapisan masyarakat seperti masyarakat berpenghasilan eendah (MBR), kelas menengah ataupun atas, dan setiap generasi, baik milenial, generasi X, Baby Boomers dan lain sebagainya.

    Maryono menambahkan, hingga  Oktober 2018, BTN telah merealisasikan kredit untuk membangun hampir 5 juta unit rumah impian bagi keluarga Indonesia, baik dalam bentuk KPR subsidi maupun non subsidi. Adapun nilai KPR yang sudah terealisasi telah mencapai lebih dari Rp 257,6 triliun. 

    Maryono optimistis tahun 2019,  BTN dapat menyalurkan pembiayaan KPR BTN sekitar 850 ribu unit rumah. Jumlah tersebut naik 100 ribu unit dibandingkan target tahun ini yang sebesar 750 ribu unit. "Pada tahun 2019, kami mematok pertumbuhan kredit sekitar 15 persen dengan mengandalkan KPR sebagai pendorong utama selama Pemerintah memantapkan program satu juta rumah”, kata Maryono. (son)