Akurasi Berita Bencana, Kurangi Dampak Sektor Pariwisata

    12
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Menpar Arief Yahya menyebut, akurasi jurnalis dalam memberitakan bencana alam yang terjadi pada suatu wilayah akan sangat membantu mengurangi dampak bencana tersebut pada sektor pariwisata. Demikian diungkapkan Menpar saat diskusi di Konvensi Nasional Media Massa yang mengangkat tema ’’Pers dan Liputan Bencana” yang berlangsung di Surabaya, Jumat (8/2).

    Diskusi menghadirkan para praktisi pers dan akademisi antara lain seniman, dosen, dan mantan wartawan Sirikit Syah, Pemimpin Redaksi Kumparan.com Arifin Asydhad, dan Imam Wahyudi Anggota Dewan Pers (Ketua Komisi Pengaduan Masyarakat & Penegakan Etika Pers), sebagai rangkaian dari kegiatan Hari Pers Nasional (HPN) 2019 di Jawa Timur yang puncak acaranya akan dihadiri oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

    Menpar mengatakan, berbagai musibah bencana alam mulai dari erupsi gunung, gempa bumi, dan tsunami yang terjadi di destinasi pariwisata Tanah Air belakangan ini membawa dampak besar terhadap sektor pariwisata dengan turunnya kunjungan wisman dan perolehan devisa. "Begitu muncul bencana, media gencar memberitakan kemudian diikuti 'travel advice' dari negara-negara sumber wisman. Bila pemberitaan bencana tersebut cepat dan akurat akan mengurangi dampak negatif pada pariwisata,” katanya.

    Menpar menjelaskan, bencana erupsi Gunung Agung Bali pada 2017 membawa dampak pada turunnya kunjungan hingga mencapai 1 juta wisman dengan pengeluaran sebesar 1 miliar dolar AS.  "Bencana erupsi Gunung Agung 2017 membuat banyak negara mengeluarkan ‘travel advice’ dengan dampak yang berbeda-beda. Travel advice yang dikeluarkan pemerintah Tiongkok 100% diikuti wisatawannya atau warga negaranya, sedangkan Australia hanya 20%,” kata Menpar.

    Erupsi Gunung Agung

    Saat terjadi erupsi Gunung Agung di Bali misalnya, pihaknya sempat melayangkan permintaan secara khusus kepada Pemerintah Tiongkok agar segera mencabut travel advice bagi warga negaranya yang akan bepergian khususnya ke Bali.

    Sementara itu, Imam Wahyudi Anggota Dewan Pers mengatakan, pemberitaan bencana yang akurat harus dikedepankan karena hal itu menjadi bagian profesionalitas para jurnalis untuk menjunjung tinggi etika dan kode etik jurnalistik. “Di era media digital, kecepatan dan akurasi itu merupakan potongan dan irisan antara etika dan misi media,” kata Imam.

    Ia menjelaskan, misi media terkait dengan nilai bisnis, dimana bagi media online misalnya akan terlihat dari view atau rating pembaca, sementara etika mengedepankan pemberitaan yang berimbang dan jelas. "Pada dasarnya jurnalisme berjalan sesuai dengan kaidahnya,” katanya.

    Menurut Pemimpin Redaksi Kumparan.com Arifin Asydhad, pemberitaan bencana selain akurat dan cepat, juga harus mengutamakan berita-berita yang menimbulkan empati dengan pola penyajian pemberitaan bisa dengan spot news ataupun indepth reporting. "Saat masuki masa tanggap darurat lebih banyak disajikan spot news, kemudian diikuti dengan indepth reporting saat memasuki masa pemulihan," katanya. (son)