Buku Jurnalisme Ramah Pariwisata, Cara Sikapi Bencana Alam

    36
    SURABAYA (Bisnisjakarta)-
    Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menekankan pentingnya jurnalisme ramah pariwisata sebagai dukungan pers terhadap upaya mewujudkan iklim yang kondusif bagi pengembangan sektor pariwisata. "Hal ini perlu dimulai dengan membangun pemahaman bahwa industri pariwisata adalah industri yang sangat sensifif terhadap pemberitaan pers dan opini publik yang mengikutinya,” kata Arief Yahya.

    Menpar bersama Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Auri Jaya, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Atal S. Depari, serta sejumlah tokoh pers nasional antara lain Ishadi SK, Margiono, dan Ilham Bintang meluncurkan buku ‘Jurnalisme Ramah Pariwisata’ di Hotel JW Marriott Surabaya, Kamis (7/2). 

    Peluncuran buku yang digelar dalam acara Gala Dinner Hari Pers Nasional 2019 tersebut sebagai rangkaian dari kegiatan Hari Pers Nasional (HPN) 2019 di Jawa Timur yang pada puncak acaranya akan dihadiri oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Surabaya, Sabtu (9/2).

    Menpar Arief Yahya memberikan apresiasi terhadap peluncuran buku ‘Jurnalisme Ramah Pariwisata’ yang diiniasi SMSI bersama Kementerian Pariwisata (Kemenpar).

    Ia berharap buku yang diharapkan dapat dijadikan sebagai pedoman bagi kalangan pers dan masyakat khususnya netizen dalam memberitakan peristiwa bencana agar tetap ramah pariwisata. Buku tersebut menawarkan perspektif etis tentang bagaimana pers memberitakan pariwisata dan isu-isu terkait lainnya.

    Arief Yahya mengatakan, benar jika dinyatakan bahwa pers mesti senantiasa menjalankan fungsi kontrol terhadap bagaimana pemerintah melaksanakan kebijakan-kebijakan pariwisata serta bagaimana industri pariwisata menjalankan fungsi bisnisnya.

    Namun di saat yang sama, pers juga mesti memberi daya dukung terhadap upaya mewujudkan iklim yang kondusif bagi pengembangan sektor pariwisata.

    Sementara itu Ketua SMSI Auri Jaya mengatakan, materi dalam buku ‘Jurnalisme Ramah Pariwisata’ ini mengupas posisi wartawan dalam memberitakan sebuah peristiwa bencana agar tetap ramah terhadap pariwisata serta bagaimana netizen bisa memanfaatkan media sosial untuk menyampaikan informasi positif yang tidak berpotensi menimbulkan masalah, termasuk persoalan hukum. "Buku ini bisa menjadi pegangan para wartawan, netizen, aparatur pemerintah, dan para pemangku kepentingan dalam menyebarkan informasi atau berita terkait kebencanaan dan pariwisata,” kata Auri Jaya.

    Buku setebal 213 halaman menyajikan tujuh tema bahasan di antaranya Jurnalisme Ramah Pariwisata Sebuah Panduan Etika Liputan, Prinsip-prinsip Etika Jurnalisme Pariwisata, Praktek Jurnalisme Ramah Pariwisata di 3 Negara, Wartawan Jangan Tinggalkan Tiga Prinsip Utama Jurnalistik, Media Sosial: Pedang Bermata Dua, dan Ancaman Dunia Pariwisata, Konsep dan Fakta tentang Pariwisata yang perlu Diketahui Wartawan, dan Catatan Penutup: Peran Besar Media dan Nitizen dalam Mendukung Pariwisata Indonesia.

    Masing-masing tema tersebut ditulis oleh para kontributor yang juga sebagai praktisi di dunia pers antara lain Nurcholis MA Basyari, Yoseph Adi Prasetyo, Suprapto, Auri Jaya, dan Agus Sudibyo sebagai editor. (son)