Hulu Migas Goes to Campus, Disambut Hangat Ratusan Akademisi

    37
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Langkah SKK Migas untuk terus mensosialisakan kinerja kegiatan industri hulu migas ke kalangan civitas akademika melalui program Hulu Migas Goes to Campus dalam bentuk Seminar Nasional  Energi 2019 disambut hangat dan  sangat positif oleh sekitar 300 peserta  dari kalangan akademisi di wilayah Jakarta dan sekitarnya, serta beberapa peserta dari luar Jawa. Seminar Nasional dengan tema, "Industri Hulu Migas dari Perspektif Ekonomi, Lindungan Lingkungan, dan Sorotan Media", diselenggarakan di Hotel Sahid Jaya Jakarta, Sabtu (16/2).

    Bekerjasama dengan Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid (Usahid) Jakarta,  yang sedang merayakan Dies Natalis  ke-22. Acara seminar dibuka oleh Ketua Umum Yayasan Pendidikan Sahid, Prof. Dr. Nugroho B. Sukamdani didampingi Rektor  Usahid Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, MSi; Kepala Program dan Komunikasi SKK Migas, Wisnu Prabawa Taher; dan Direktur Sekolah Pascasarjana Usahid, Prof. Dr. Ir. Kholil, MKom.

    Dengan antusias peserta menyimak dan menanggapi papaparan empat narasumber, yaitu Kepala Divisi Formalitas SKK Migas, Didik Setiyadi; Komaidi Notonegoro, Direktur Reforminer Institute; Wahyu Muryadi dari Tempo Group, dan Prof. Kholil dari Pasacasarjana Usahid. Secara umum para  narasumber mengemukakan, bahwa kinerja industri hulu migas cukup baik dengan segala potensi yang ada, termasuk dampak positif dalam menggerakan ekonomi masyarakat.

    Namun masih terdapat beberapa kendala dan masalah yang harus diselesaikan agar mampu menopang disparitas antara produksi nasional dan konsumsi energi berbahan fosil yang semakin lebar. Dari aspek lingkungan, industri hulu migas sudah menerapkan standar yang sangat tinggi, namun konsolidasi harus  terus  dilakukan agar emisi karbon tidak semakin meningkat akibat kegiatan ekploitasi migas dan pemanfaatan bahan bakar migas.

    Para peserta yang didominasi oleh dosen  dan mahasiswa pascasarjana dari berbagai universitas berharap, kegiatan serupa terus dilakukan secara berkelanjutan, agar dunia kampus selalu mendapat informasi perkembangan terkini mengenai pengelolaan energi khususnya minyak dan gas bumi, agar dapat memberikan sumbangsih dan masukan kepada SKK Migas dan pemerintah demi kemajuan bersama. Salah satu peserta Dr. Fadhil, dosen UIN Medan misalnya, mengharapkan kegiatan sosialisasi seperti Hulu Migas Goes to Campus dapat menjangkau perguruan tinggi di luar Jawa dengan lebih luas, agar kalangam akademisi tidak ketinggalan informasi, dan bisa  menyampaikan informasi kepada masyarakat luas dengan lebih akurat.

    Paradigma Baru

    Sementara Kepala Divisi Formalitas SKK Migas, Didik Setyadi mengungkapkan SKK Migas telah menerapkan paradigma baru dalam pengelolaan migas lantaran tidak bisa lagi menjadi sumber penerimaan negara seperti dahulu yang bisa menopang APBN diatas 60%.

    Paradigma SKK Migas telah bergeser, minyak dan gas bumi tidak lagi sebagai penerimaan Negara tetapi sebagai ketahanan energy kedepan.
    “Saat ini produksi migas tidak pernah menyentuh angka 800 ribu barel perhari. Kita sudah mati-matian diangka 750-760 barel perhari, sementara konsumsi migas yang melonjak dulu hanya 400 sd 600 ribu barel kini sudah mencapai 1,6 juta barel perhari,  kita punya defisit yang begitu besar,” ujarnya.

    Menyoroti masalah ini defisit produksi minyak bumi ini, Direktur Eksekutif Reforminer Komaidi Notonegoro menekankan pentingnya political will dari pemerintah. Alasannya, untuk mencapai lifting minyak 800 ribu barel perhari perlu biaya yang besar.
    “Solusinya harus ada political will dari pemerintah, kalo pemerintahnya mau bergerak bersama atau kita tergantung pihak asing,” katanya. 

    Lebih lanjut Komaidi  mengungkapkan, cadangan minyak Indonesia masih cukup besar. Dari data SKK Migas dan ekplorasi, Indonesia masih memiliki cadangan minyak bumi sebanya 80 milyar barel. Tetapi untuk menkonversi menjadi proventmenurutnya, tidak sederhana. "Apa lagi sekarang cadangan minyak bumi itu ada di laut dalam, di Indonesia timur, yang tentu secara tehnologi, modal dan infrastruktur membutuhkan biaya yang lebih besar. Tugas teman-teman SKK Migas cukup karena harus menjaga penurunan  sementara untuk produksi, cadangan harus meningkat, untuk meningkatkan cadangan harus explorasi, nah ekplorasi ini biayanya tinggi,” tambahnya. (son)