Bandara Silampari Fasilitasi Masyarakat Delapan Kabupaten

    81
    LUBUK LINGGAU (Bisnisjakarta)-
    Bandara Silampari Lubuk Linggau, Sumatra Selatan yang sebentar lagi akan diresmikan Presiden Joko Widodo memfasilitasi mobilitas masyarakat delapan kabupaten dari tiga provinsi, mengingat letak geografis bandara ini berada di persimpangan antara Sumatra Selatan, Jambi dan Bengkulu. "Selama ini banyak masyarakat dari Kabupaten Surolangun (Jambi) atau Curup (Bengkulu) bepergian melalui Bandara Silampari, selain masyarakat dari beberapa kabupaten di Sumsel bagian barat ini," kata Kepala Bandara Silampari Rudi Pitoyo di Lubuk Linggau, Selasa (19/2).

    Selama ini, kata Rudi, masyarakat Sumsel bagian barat sangat terbantu dengan adanya Bandara Silampari seperti dari Kota Lubuk Linggau sendiri, Kabupaten Musirawas, Musirawas Utara, Empat Lawang, Pagar Alam, Lahat, Curup, Surolangun. "Memang secara geografis mereka lebih dekat ke Bandara Silampari dari pada ke Palembang atau ke Bengkulu maupun ke Jambi," kara Rudi.

    Sementara Walikota Lubuk Linggau, H SN Prana Putra Sohe meyakini, Bandara Silampari akan memenuhi ekspektasi akan sarana transportasi udara untuk memudahkan mobilitas masyarakat Lubuk Linggau dan sekitarnya. Bahkan perekonomian pun diyakini akan semakin menggeliat dengan keberadaan Bandara Silampari ini. "Kehadiran bandara ini tentu membantu masyarakat, bukan hanya yang tinggal di Lubuk Linggau tapi masyarakat yang di daerah sekitarnya juga seperti Kabupaten Mura, Muratara, Empatlawang bahkan Provinsi tetangga seperti Bengkulu bisa menikmati fasilitas ini,” kata Prana Putra.

    Dukungan penuh atas pengoperasian bandara ini dibuktikan Walikota Lubuk Linggau dengan menghibahkan sejumlah aset daerah, seperti gedung Air Traffic Control (ATC) yang baru selesai dibangun. Selain itu Pemkot juga menghibahkan gedung Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

    Bandara Silampari, tambah Rudi, memiliki runway sepanjang 2.220 m x 45 m dan kini sudah melayani 3 kali penerbangan setiap hari, yakni maskapai Batik Air dan Nam Air untuk rute Jakarta – Silampari, serta Wings Air untuk rute Silampari – Palembang, dengan jumlah penumpang 300 – 350 orang setiap harinya.

    Rudi mengatakan, pembangunan dan penambahan luas terminal yang dilakukan sejak 2016 sudah rampung 100 persen. Gedung terminal itu terdiri dari ruang keberangkatan dan kedatangan serta ruang tunggu penumpang dan tempat check in.

    Rudi menambahkan, rencana kegiatan tahun 2019 meliputi pembuatan talud pengaman runway strip, pembangunan gapura dan kantor keamanan, pengadaan kendaraan foam tender type III, pembuatan gedung operasional type 36 dan 50 masing-masing 10 unit dan 3 unit, pembuatan RTT sisi darat, pengadaan dan pemasangan pagar pengaman sisi udara dan pagar pengaman batas lahan dengan BRC tinggi 2,4 m, prmbangunan mushola, renovasi dan penataan gedung administrasi dan gedung operasional, serta pengawasan pengembangan bandara. 

    Semua rencana pengembangan bandara Silampari, kata Rudi, mengacu kepada Kepmenhub No.KP 352 Tahun 2015 dengan kebutuhan lahan sekitar 12,3 hektar untuk jalan inspeksi, pemenuhan runway strip menjadi 2.345 m x 300 m, dan fasilitas sisi darat,” pungkas mantan Kepala Bandara Labuhan Bajo ini. (son)