Dahulukan Penghitungan Suara Pileg daripada Pilpres

    24
    JAKARTA (Bisnisjakarta)- Penghitungan suara dinilai menjadi tahapan paling krusial dari seluruh tahapan Pemilu 2019 yang diselenggarakan secara serentak untuk pertama kalinya.

    Untuk mencegah keruwetan pada tahapan ini, Komisi Pemilihan Umum (KPU) diminta mendahulukan penghitungan suara untuk pemilu legislatif dibanding pemlihan presiden (pilpres). Pertimbangannya, tensi dan eforia  pilpres lebih besar dan lebih panas dibanding pileg. "Apakah KPU sudah mengantisipasi kalau penghitungan suara pilpres dulu, dan pihak yang kalah akan membuat kerusuhan atau chaos? Apalagi ada yang menyebut pilpres ini jihad, apa tidak menakutkan itu?,” sebut politisi dari PDIP Effendi Simbolon di Jakarta, Jumat (22/2).

    Wakil Rakyat dari daerah pemilihan DKI Jakarta III itu meminta meminta KPU mengantisipasi suasana pasca penghitungan suara pilpres tersebut. Sebab, kalau sudah ada yang menang dan chaos, petugas di TPS bisa meninggalkan TPS, sehingga suara caleg tak lagi dihitung. "Kalau demikian, maka akan terjadi kekosongan konstitusional dimana seluruh kursi DPR, DPD, DPRD I dan DPRD II itu akan kosong. Karenanya, saya mengusulkan penghitungan suara pileg dulu dibanding pilpres,” ujarnya.

    Sementara itu, Direktur Relawan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Ferry Mursyidan Baldan menekankan pentingnya pemilu berlangsung secara fair, adil, dan demokratis, agar menghasilkan pemilu yang berkualitas, tidak menghalalkan segala cara, dan tidak mencederai demokrasi  "Karena pemilu itu simbol peradaban bangsa dan akan berdampak pada kehidupan negara ke depan, maka pemilu harus jujur, fair dan adil itu dijaga bersama. Jangan sampai ada kecurangan. Kalau curang bisa menurunkan citra Indonesia di mata dunia,” kata mantan Menteri Tata Ruang dan Agraria/Kepala Bapenas.

    Ferry mengakui jika pemilu kali ini sebagai konsekuensi dari pemilu serentak yang disepakati DPR sendiri. “Yang terpenting semua harus mengawal proses penghitungan. Soal chaos atau tidak, kadang orang yang kuat di dapil tapi kalah di pemilu juga bisa ngamuk,” ungkapnya.

    Pengamat politik Adi Prayitno sepakat perlunya penghitungan suara pileg dulu dibanding pilpres. "Dengan menghitung pileg, maka eforia capres bisa dilakukan pasca pileg. Sehingga tak ada kekhawatiran suara pileg diabaikan petugas di TPS," ujarnya. (har)