Produk Handmade Indonesia Ramaikan New York Now

    37
    JAKARTA (Bisnisjakarta)–
    Selain pariwisata, ekonomi kreatif Indonesia terus menggebrak dunia internasional. Bahkan, untuk kali keempat sejak tahun 2016 hasil karya kreatifitas anak bangsa Indonesia ditampilkan di New York Now, AS, 11-14 Agustus 2019.

    Dalam ajang bertaraf internasional ini, Indonesia menghadirkan produk home decor yang dibuat dengan cara handmade, di mana produk-produk kriya terbaik yang lolos kurasi akan diperkenalkan di Jacob K. Javitz Center, New York seperti lampu, bantal, seprei atau lebih mengarah ke furniture.

    Bahkan, terdapat pula produk lainnya seperti syal maupun jam tangan hingga asesoris lainnya yang kesemuanya menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan serta memberdayakan masyarakat sekitar dalam proses pembuatannya.

    Melihat hal tersebut, Badan Ekonomi Kreatif Indonesia atau lebih dikenal dengan Bekraf ini menyambut positif apalagi ajang ini tentu mengenalkan produk dari Indonesia. Oleh karenanya, pihaknya berharap bahwa produk kreatifitas Indonesia sudah harus bisa menembus pasar premium bukan sebatas hanya mengenalkan atau menawarkan saja. "Selama ini brand Indonesia belum ada yang internasional, terlebih selama ini strategi pasar hanya sebatas penawaran saja. Melalui event New York Now ini maka kami dari Bekraf berharap bahwa produk kriya Indonesia sudah harus bisa berkembang di dunia internasional,” ucap Deputi Pemasaran Badan Ekonomi Kreatif Indonesia Josua Puji Mulia Simanjuntak di Jakarta, Jumat (1/3).

    Josua melihat produk kriya Indonesia memiliki keunggulan berupa kekhasan yang tidak dimiliki oleh negara lainnya, terlebih Indonesia memiliki keberagaman budaya dan suku, belum lagi sentuhan alam yang luar biasa bisa menjadi daya tarik dunia internasional untuk lebih mengenal produk kreatifitas yang dilahirkan dari tangan-tangan masyarakat yang kaya atas produksi handmadenya. "Kreatifitas dari masyarakat Indonesia murni muncul dari pemikirannya masing-masing secara otomatis memiliki nilai lebih dalam menghasilkan brand-brand ternama yang layak dijual sehingga established dari produk yang dikeluarkan bisa membawa nama Indonesia dikenal lebih luas lagi,” tuturnya.

    Bukan hanya itu saja, Bekraf juga berharap agar produk kriya Indonesia bisa membawa perubahan ke arah bisnis sehingga daya jualnya kian menguat. Bila ini dilakukan dengan baik, maka niscaya akan membawa perubahan pertumbuhan perekonomian di masyarakat dan tentu saja akan meningkatkan kontribusi ekspor produk kreatif terhadap capaian ekspor nasional. "Sudah saatnya pemasaran produk kriya Indonesia tidak hanya sekedar ditujukan untuk ekspor semata, namun harus naik kelas, yaitu dengan masuk ke dalam kelas premium,” lanjutnya.

    Proses Kurasi

    Sementara itu, Utusan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) New York Yohannes Jatmiko menambahkan, event ini selain bisa mengenalkan produk handmade Indonesia kepada dunia internasional, namun juga menjadi wadah bagi pengembangan kreatifitas apalagi selama ini kesulitan kerap dialami oleh para pelaku kreatif ketika mencoba melebarkan sayap bisnis mereka ke pasar internasional. "Melalui proses kurasi yang dilakukan oleh para ahli di bidangnya, maka diharapkan acara ini bisa membuka mata para creator agar lebih bisa menciptakan produk yang sesuai dengan keinginan pasar. Terlebih buyers produk kriya di Amerika memiliki potensi yang besar, belum lagi di New York Now terdapat para buyers ternama yang datang dari China, India, hingga daratan Eropa,” tuturnya.

    Terakhir, menurut Managing Director Kayou Alexandre Alvin, yang merupakan salah satu alumni peserta pameran New York Now tahun 2017 dan 2018 ini terus berkesplorasi dalam mengembangkan produknya. Dalam menjual produknya, pihaknya lebih mengedepankan sisi natural. Hal inilah yang digemari oleh masyarakat Amerika khususnya. "Desain yang sederhana serta natural, apalagi produk yang kita hasilkan juga ramah lingkungan, hal ini sangat diminati oleh masyarakat luar negeri pasalnya mereka sangat concern perihal tersebut. Belum lagi dari sisi kualitas dan penggunaan bahan juga harus dipikirkan, bukan sebatas menciptakan produk semata,” tukasnya. (son)