Daya Saing Pelabuhan di Indonesia Masih Rendah

    55
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Pasar Logistik akan menjadi salah satu industri terbesar di dunia, dan Indonesia sebagai negara maritim harus bisa menjadi pemain utama dalam industri ini. Namun demikian, pelabuhan di Indonesia masih memiliki daya saing yang rendah dibandingkan negara lain. "Penyebanya adalah biaya logistik yang masih mahal dan dwelling time yang masih tinggi," kata Menhub Budi Karya Sumadi saat membuka Dialog Strategis dengan tema Revolusi 4.0 pada Industri Pelabuhan & Pelayaran di Jakarta, Rabu (6/3).

    Menhub mengatakan, saat ini Indonesia sedang bersiap menghadapi era Revolusi Industri ke-4 atau Industri 4.0 yang bertujuan meningkatkan daya saing dan produktivitas industri nasional. Revolusi Industri 4.0 merupakan era dimana terjadi konektivitas secara nyata antara manusia, mesin, dan data.

    Kehadiran revolusi Industri 4.0 ditandai dengan otomatisasi dan digitalisasi. Hal ini akan membuat dampak yang berarti bagi masa depan industri Indonesia.

    Menhub menjelaskan, hampir semua industri mengharapkan adanya otomatisasi guna mendorong bisnisnya. Sama halnya di Pelabuhan, peralatan yang ada dirancang sedemikian rupa guna meminimalisir biaya, efisiensi, dan keselamatan orang yang menggunakannya. "Revolusi industri 4.0 di sektor pelabuhan merupakan hal baik untuk menuju smart port dan smart supply chian," kata Menhub.

    Mengutip data World Bank 2018, Menhub mengatakan, biaya logistik Indonesia kurang lebih 25 % dari PDB, kalah dibandingkan dengan Vietnam dan Malaysia yang mana biaya logistiknya hanya sekitar 13 – 15 % dari PDB. Oleh karena itu, dalam rangka peningkatan daya saing pelabuhan Indonesia terhadap pelabuhan di negara lain, gebrakan Revolusi Industri 4.0 sangat dibutuhkan.

    Dengan membuka peluang Industri 4.0 untuk masuk dalam industri pelabuhan, jelas Menhub, membuka pintu bagi teknologi baru dan inovatif yang dapat dimanfaatkan, yaitu dengan Big Data pelabuhan yang kemudian dapat di integrasikan pada lembaga-lembaga terkait hingga efisiensi dalam proses loading – unloading kapal menuju pelabuhan Indonesia yang efisien.

    Menhub menekankan pentingnya Indonesia menjadi pemain utama dalam industri pelabuhan dan pelayaran, karena Indonesia adalah negara maritim, dan ternyata 40 persen perdagangan logistik dunia adalah melewati perairan Indonesia. "Hal ini menunjukkan bahwa kita telah unggul, maka dari itu fenomena ini harus kita manfaatkan dengan cara menguasai teknologi. Saat kita menguasai tekonologi dan logistik maka Indonesia telah berhasil memanfaatkan potensi maritimnya dengan baik," paparnya.

    Kemenhub sendiri, kata Menhub, telah memulai gerakan-gerakan digitalisasi, seperti melakukan Transhub Challenge untuk mendorong start-up digitalisasi di bidang transportasi hingga mengembangkan system Inaportnet sebagai wujud digitalisasi alur logistik. "Melalui sistem Inaportnet, akan disinergikan dengan lembaga/kementerian lain yaitu Beacukai, Kementerian Keuangan. Sistem Inaportnet saat ini adalah versi 2.0 yang dilengkapi dengan fitur delivery order online (DO Online) di 16 pelabuhan," ungkapnya.

    Yang pasti, digitalisasi bisa mendorong percepatan layanan yang akan berdampak pada peningkatan produktivitas di pelabuhan, bongkar muat kapal, maupun transportasi umumnya. (son)