Penertiban Papan Reklame, Potensi PAD Hilang

    23
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Pemprov DKI Jakarta membongkar papan reklame (Bilboard) iklan di beberapa ruas jalan utama di Ibukota. Langkah penertiban dengan alasan masuk wilayah jalur ketat kendali tersebut menuai protes dari banyak pihak terutama dari kalangan pengusaha papan reklame outdoor. "Lebih elegan kalau Pemprov DKI Jakarta menertibkan tiang listrik dan telepon serta kabel yang semrawut, karena tak sesuai dengan estetika kota metropolitan," kata CEO PT Oval Advertising Agus Salim di Jakarta, Senin (4/3).

    Pemprov DKI Jakarta seharusnya tidak langsung menertibkan bilboard yang selama ini sudah berkontribusi bagi pemasukan pendapatan asli daerah (PAD) dengan alasan merapikan kawasan. "Kami dari para pengusaha sangat mengharapkan pemimpin bijak yaitu penertiban dilakukan secara bertahap dan proporsional. Kalaulah misalnya terlalu besar, bisa diperkecil sehingga uang ke pemda masih tetap masuk melalui pajak reklame tersebut,” kata Agus Salim.

    Pengusaha papan reklame sepakat untuk mematuhi semua peraturan yang ada tapi harus disertai dengan kebijakan yang arif dan solutif agar tak mengancam kelangsungan usaha. "Andai saya bisa langsung bicara dengan Gubernur, maka saya akan mengatakan bahwa kami butuh pemimpin seperti Bapak Anis dengan penuh kecerdasanya, edukasi lebih penting tapi kita harus melihat ekosistim bagaimana pengembangan kotanya, industrinya, pendapatan rakyatnya, harus disinkronisasi, tidak bisa memutus mata rantai begitu saja,” papar Agus Oval nama yang lebih populer melekat padanya.

    Agus kembali mengingatkan, pemandangan yang banyak terlihat di wilayah Ibukota adalah keberadaan tiang listrik dan tiang telepon di pinggir jalan dengan jaringan kabel yang semrawut, dan realitas tersebut sangat ironi serta merusak keindahan kota.

    Padahal, terangnya, kabel listrik mestinya ditanam di bawah tanah dan ini merupakan tanggung jawab Pemprov DKI Jakarta yang lebih urgen dibanding papan reklame yang jumlahnya relatif sedikit dibanding tiang listrik. "Di banyak negara, papan reklame justru menjadi daya tarik tersendiri," papar Agus Salim. (son)