Beli Ruko Seharga Rp 7,2 Miliar, Pengusaha Reklame Minta Perlindungan Hukum

    30
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Aparat penegak hukum diminta untuk menindak segala bentuk pelanggaran hukum di bidang properti. Pasalnya, banyak masyarakat yang terjebak membeli properti secara legal namun di kemudian hari ternyata tanah dan bangunan tersebut dalam kondisi sengketa.

    Hal tersebut dialami Agus Salim, pengusaha periklanan yang membeli ruko seharga Rp 7,2 miliar, namun belakangan bangunan empat lantai tersebut menjadi objek sengketa keluarga. "Sebagai warga yang patuh hukum dan taat bayar pajak, saya mohon perlindungan hukum dari aparat berwenang," ujar Agus di Jakarta, Rabu (6/3).

    Agus menuturkan, tahun lalu membeli beberapa unit ruko di Jalan Keagungan, RW 06 Kel. Keagungan, Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat dari seorang bernama Hioe Se Tjoan. Ruko yang bersertifikat atas nama Hioe Se Tjoan dibelinya seharga Rp 7,2 miliar melalui kredit sebuah bank.

    Belakangan Agus mengetahui bahwa kepemilikan ruko atas nama Hioe Se Tjoan digugat oleh enam pihak saudara dari sembilan saudara kandungnya sendiri, antara lain M. Alidjons, Maya Ratna, Hioe Nyet Sioe, Natasia Hioe, Ferdinal Hioe,  Eka Budiman, dan Hioe Sie Tjah.

    Para penggugat ini terdiri dari saudara kandung maupun keponakan. Sedangkan tiga saudara lainnya tidak ikut menggugat karena tahu properti yang dimaksud adalah milik pribadi Hioe Se Tjoan sehingga mereka turut digugat kelompok M. Alidjons.

    Inti dari sengketa tersebut, penggugat mengklaim tanah seluas 324 M2 berikut bangunan tiga unit ruko adalah warisan orangtua mereka bernama Hioe A Sie (meninggal dunia tahun 1982) dan Phang Khioek Thauw yang meninggal dunia tahun 2005. Mereka menuntut tanah dan bangunan tersebut dibagi untuk sepuluh orang, termasuk Se Tjoan. 

    Sebaliknya, Se Tjoan mengklaim bahwa lahan tersebut miliknya yang dibelinya seharga Rp 240 juta. Selanjutnya, tahun 1998 membangun tiga ruko empat lantai dengan biaya Rp 540 juta. Adapun ruko warisan orang tua adalah yang terletak di Jalan Keamanan yang saat ini dikuasai salah satu saudaranya. 

    Sejauh ini, berdasarkan putusan PT DKI Jakarta bernomor 598/PDT/2018/PT DKI, majelis hakim yang dipimpin Elang Prakoso Wibowo menolak gugatan yang dilakukan M. Alidjons bersaudara tersebut. Hakim juga memerintahkan Juru Sita PN Jakbar untuk mengangkat Sita Jaminan atas tanah dan bangunan tertanggal 14 Desember 2017. Dengan demikian Se Tjoan dinyatakan sebagai pemilik sah properti tersebut. Mestinya, mereka menggugat ruko lainnya yang terletak berdekatan dengan ruko yang menjadi objek gugatan.

    Agus berharap agar masalah tersebut cepat selesai. Sebab, kalau sengketa berjalan berlarut-larut, dapat merugikan pihak yang terlanjur membelinya. Ruko itu dibeli atas nama perusahaan milik Agus yakni PT Oval Trijaya Raya. "Rencananya bangunan itu akan kami jadikan usaha kos dan menampung UMKM bidang kuliner," ujar Agus yang dikenal sebagai pengusaha reklame, dan mantan pengurus organisasi wartawan ini. (son)