Rakyat Bisa Bertanya Saat Debat Pilpres, Setujuhkah ?

    15
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Debat Pilpres memasuki tahap ketiga yang akan digelar Minggu (17/3). Momentum debat hendaknya dijadikan ajang bagi rakyat untuk bertanya langsung kepada calon. "Ini pesta demokrasi untuk rakyat, dan bukannya perang. Maka alangkah menariknya kalau rakyat bisa langsung bertanya dalam debat capres-cawapres nanti," ujar anggota DPR Eriko Sotarduga di Gedung DPR Jakarta, Kamis (14/3).

    Eriko berharap, dengan bisa langsung bertanya maka rakyat akan mengetahui secara baik capres-cawapres yang akan dipilih pada 17 April 2019. "Ini pesta demokrasi untuk rakyat, dan bukannya perang. Maka alangkah menariknya kalau rakyat bisa langsung bertanya dalam debat capres-cawapres nanti," ucapnya.

    Selain itu, rakyat juga akan makin mengetahui kapasitas dan jejak rekam calon pemimpinnya untuk lima tahun ke depan. Tentunya, pertanyaan yang lansung diajukan rakyat dari seluruh Indonesia melalui mekanisme yang selektif dan disesuaikan dengan tema yang sudah ditetapkan KPU. "Saya yakin dengan model itu debat akan sangat menarik," kata Eriko.

    Meski berdasarkan persentase, terjadi peningkatan partisipasi rakyat dalam mengikuti debat Pilpres tetapi kenyataannya tidak banyak berpengaruh pada rakyat terutama bagi mereka yang belum mempunyai pilihan atau swing voters. Oleh karena itu, menurutnya usulan itu bisa menjadi solusi dari persoalan tersebut.

    Di tempat sama,  Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah sepakat agar debat berlangsung secara natural dan intens. Oleh karena itu, partisipasi rakyat harus lebih dikedepankan. KPU jangan mereduksi keinginan rakyat dengan mengasumsikan debat Pilpres itu seperti cerdas cermat antar siswa sekolah. "Jadi di situ ada reduksi terhadap keinginan rakyat untuk mengetahui apa yang ada di dalam kepalanya kandidat bukan kepalanya KPU atau panelis-panelisnya  atau  juga di dalam kepalanya para tenaga ahli dan staf staf yang diangkat oleh calon," ujarnya.

    Khusus untuk debat antar cawapres, Fahri meyakini akan menarik minat orang banyak karena Cawapres Nomor urut 01 Ma'ruf Amin dan Cawapres nomior urut 02 Sandiaga Uno memiliki latar belakang jauh berbeda keilmuannya.

    Satu sisi Cawapres Sandiaga Uno dikenal milenial, muda, pengusaha, dan sebaliknya Cawapres Ma'ruf Amin dikenal seorang ulama, dan politisi gaek. Keduanya akan bertarung dengan latarbelakang pemikiran berbeda, termasuk lifestyle dan cara berkampanyenya. "Karenanya dengan berbagai latar belakang itu, begitu berdebat, sebenarnya kita ingin perdebatannya terjadi secara natural dan secara intens. Jangan lagi ada kisi-kisi pertanyaan. KPU jangan mengasumsikan debat Pilpres itu seperti cerdas cermat," ujarnya. (har)