OTT Ketua Umum PPP, Jelas Unsur Kesengajaan bukan Jebakan

13

JAKARTA (Bisnis Jakarta) – OTT Ketua Umum PPP Jumat lalu sangat memperihatinkan. OTT ini menunjukkan politisi semakin sakit, setingkat ketua umum masih ikut mengatur kewenangan bagi-bagi pengisian jabatan dan kandas  dalam putaran uang. Ketua Asosiasi  Ilmuwan Praktisi Hukum Indonesia (Alpha), dan Dosen Fakultas Hukum Universitas Bung Karno, Azmi Syahputra dalam keterangan tertulisnya menilai Ketua Partai setingkat pengurus Nasional masih bermain dalam kasus suap ratusan juta. “Artinya uang nilai jumlah demikian saja diambil apalagi jika nilainya makin besar, pasti nampak sifat aslinya, berani curang dan rakus. Kalau ada nilai uang yang lebih besar pasti akan lebih mau ikut serta dalam bagian kerjaan walaupun harus dilakukan dengan cara curang,” sebutnya.

Ini memalukan, salah satu ketua umum parpol besar, warna dan  konsepnya jelas berbasis agama, seharusnya jadi panutan kok malah jadi tontonan kurang baik. Dalam hukum pidana ini disebut dengan dolus (kesengajaan), perbuatan ini dilakukan oleh yang bersangkutan selaku ketua umum partai dan pihak-pihak yang ikut terlibat. Antara yang memilih fungsi peran jadi makelar, pembeli dan penjual jabatan ini ada keinginan yang sama, tujuan yang sama. “Ini tak bisa main sendiri, sehingga disepakati nilai besaran nominal tersebut , untuk mengisi jabatan di level kementerian Agama dan kapan diadakan serah terima uang tersebut, ini sadar banget jadi sangat sengaja apalagi pakai termyn dimana  sebelumnya sudah terima uang untuk jual jabatan,” nilainya.

Tentunya mereka yang terlibat dalam modus ini, punya keinginan yang sama sehingga KPK dalam penyidikan segera dapat mempetakan  siapa yangg berperan maksimal  dan dominan dalam penjualan jabatan ini. Hukum itu mengenal asas accesoriumnon ducit, sed sequitur,suum principale. ( pelaku pembantu tidaklah memimpin, melainkan mengikuti pelaku utamanya) akan diketahui siapa pelaku utamanya segera dalam OTT ini.

Diketahui di level Kementerian Agama saja melazimkan hal curang begini apalagi dipelopori langsung oleh ketua umum partai yang basisnya atas nama agama.  “Miris mau marah campur sedih, habislah anak muda politisi potensial penerus bangsa gara-gara perilaku korupsi , ini pasti ada yang salah harus segera berbenah,” ujarnya menambahkan.

Seharusnya ketua parpol itu memberikan contoh perilaku dan membawa praktik demokrasi yang tumbuh , berkembang, mewarnai dan selamat bagi Indonesia (cinta bangsa )bukan dengan cara melampiaskan diri sampai di OTT dan bekerja curang dengan cara yang tidak lazim dan tidak patut sampai melanggar perintah undang undang. (grd)