Aksi Pemilu Damai, KMHDI Serukan Panca Sima

    15
    JAKARTA (Bisnisjakarta)- Koordinator Aksi Damai Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI), I Gede Hendra Juliana mengatakan menjelang hari H pemungutan suara pada 17  April 2019 pesta demokrasi telah dicederai  kampanye hitan, politik adu domba dan berita-berita hoaks yang menyebabkan suhu politik menjadi semakin memanas. "Situasi ini dapat dilihat dari media sosial saat ini, masing-masing kandidat saling melemparkan isu-isu yang tidak sehat dan provokatif sehingga membuat sebagian masyarakat terprovokasi," ucap Gede Hendra pada Aksi Pemilu Damai yang digelar di Jakarta, Jumat (22/3).

    Selain di Jakarta, mahsiswa Hindu di seluruh Indonesia menggelar aksi serupa  secara serentak di 20 provinsi dan di 51 titik aksi di seluruh Indonesia.

    Aksi damai dilakukan dalam rangka ambil bagian mewujudkan pemilu yang damai dan menjaga persuan nasional serata melaksanakan demokrasi Pancasila untuk demokrasi yang demokratis.

    Di Ibukota, ratusan mahasiswa Hindu menggelar aksi damai pemilu dengan mengambil start dari  Kantor Bawaslu RI di Jalan Thamrin  menuju Patung Arjuna Wijaya atau Patung Asta Brata di Silang Monas. Usai berorasi di patung yang lebih dikenal dengan sebutan Patung  Kereta Kuda itu, rombongan aksi memutar kembali menuju Kantor KPU RI di Jl. Imam Bonjol no. 29, Menteng, Jakarta Pusat.

    Dalam orasinya, Gede Hendra mengatakan sesuai  esensinya,  pemilu adalah sarana kedaulatan rakyat. Kedaulatan berarti kekuasaan tertinggi atau mutlak. Bila digabung dengan kata rakyat maka kedaulatan tertinggi berada di tangan rakyat.

    Rakyatlah, menurutnya yang memiliki hak untuk menentukan roda pemerintahan melalui suaranya dalam Pemilu. Dengan demikian jelaslah bahwa masa depan Indonesia berada di tangan rakyat sendiri karena lembaga-lembaga tinggi tersebut dipilih oleh rakyat. Dan bertujuan untuk membentuk pemerintahan yang demokratis, kuat dan memperoleh dukungan rakyat dalam rangka mewujudkan tujuan nasional sebagai mana diamanatkan dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 1945. "Aksi serentak ini dilaksanakan berangkat dari kondisi politik Indonesia yang kian liar, politik elektoral yang hanya cenderung menjadikan rakyat sebagai objek politik tahunan, selain itu juga angka partisipasi Pemilu kian dikhawatirkan khususnya dikalangan millennial yang sejatinya sebagai penerus etafet kepemimpinan bangsa," sebut dia.
        Dia menjelaskan aksi pemilu damai serentak bertujuan memberi informasi kepada masyarakat bahwa pemilu bukan sebagai ajang saling memecah belah dan memperkeruh suasana dalam Bangsa dan bernegara, apalagi hanya ajang untuk berebut kuasa saja. "Aksi serentak ini sekaligus mengkampanyekan pemilu damai, bermartabat dan mengedepankan nilai-nilai Pancasila," sebutnya.

    Oleh sebab itu aksi serentak KMHDI ini sangat penting untuk meredam situasi politik yang kian memanas dan menyadarkan masyarakat supaya masyarakat tidak terlalu larut dalam konflik beda pilihan tapi lebih kepada mengedepankan kepentingan atau cita-cita bersama yaitu masyarakat yang damai, sejahtera, adil dan makmur. "Aksi serentak ini merupakan gerakan moral atas kesadaran mahasiswa Hindu terhadap pentingnya peran pemuda mahasiswa dalam perpolitikan di Indonesia, karena pastisipasi pemuda dalam pemilu akan menentukan arah perpolitikan nasional dan nasib Bangsa Indonesia kedepan," tegasnya.

    Dalam aksi seretak ini, KMHDI mendeklarasikan lima sikap "Panca Sima” (Lima Sikap Mahasiswa). Panca Sima tersebut yaitu Kembali ke Demokrasi kerakyatan yang berdasarkan Pancasila, Pemilu harus mendorong rakyat untuk cerdas dalam berpolitik, Esensi Pemilu sepenuhnya untuk kepentingan rakyat bukan untuk kerabat apalagi korporat.

    Menghimbau kepada rakyat untuk mengedepankan kepentingan bersama (cita-cita bersama melalui pemilu) ketimbang larut dalam konflik beda pilihan, Mendorong kepolisian republik Indonesia untuk lebih mengantisipasi konflik horizontal antar masyarakat sebagai imbas dari pemilu baik sebelum ataupun sesudah pelaksanaan pemilu, mendorong pelaksanaan pemilu damai dan menjaga persatuan nasional. (har)