Ketua MPR Nilai, Titik Rawan Pemilu Setelah 17 April

    44
    BANDAR LAMPUNG (Bisnisjakarta)-
    Ketua MPR Zulkifli Hasan berpendapat titik rawan pemilu sesungguhnya pada tahapan pasca pemungutan suara 17 April 2019 mendatang. Apabila semua pihak mampu menjahit kembali merah putih, maka kemenangan  akan diperoleh tetapi sebaliknya apabila yang terjadi konflik dan kerusuhan maka kekalahan lah yang diperoleh. "Saya tidak khawatir dari hari ini sampai 17 April nanti tetapi tanggal 20 itu yang saya khawatirkan. Jika hasilnya beda tipis dan keduanya mengklaim sama-sama menang," tegas Zulkifli Hasan saat membuka Press Gathering wartawan parlemen di Swiss Bell Hotel, Bandar Lampung, Jumat (23/3) malam.

    Selain Zulkifli, acara juga dihadiri Kepala Kesbangpol Pemerintahan Provinsi Lampung Irwan Sihar Marpaung, anggota MPR Al Muzammil Tusuf (Ftaksi PKS), Alimin Abdullah (Fr,m  aksi PAN), Ketua Koordinatoriat Wartawan Parlemen Ramdhony Setiawan, Kabag Humas MPR Hj. Siti Fauziah dan lain-lain.

    Oleh karena itu, ia menegaskan semua harus tetap bersatu, damai dan kokoh dalam pangkuan NKRI. “Kalau pemilu ini rusuh, maka kalah semua. Karena itu pemilu ini bukan perang badar, dan bukan pula perang total. Kalau perang itu namanya provokasi,” tegas Zulkifli.

    Sebenanrya, syarat pemilu damai telah diamanatkan konstitusi yaitu  pasal 22 E. UUD 1945 yaitu harus diselenggarakan secara langsung, umum, bebas, dan rahasia serta jujur dan adil. Karena itu penyelenggara pemilu harus bekerja sesuai aturan perundang-undangan.

    Demikian pula media massa harus netral, jujur, benar dan berimbang dalam menyampaikan imformasi. “Kalau bisa jangan sampai media massa, khususnya media mainstrem menjadi Timses capres-cawapres tertentu,’ kata Zulkifli.

    Sebab, lanjut Zulkifli, kalau media.mainstrem tidak netral dan tak jujur, jangan salahkan media social (Medsos) yang makin meraja lela belakangan ini. “Jadi, baik buruknya pemilu ini tergantung kita,” tuturnya.

    Ia berharap penyelenggara pemilu, aparat keamanan, elit politik, dan masyarakat harus sama-sama membuat pemilu ini riang gembira dan terus menjaga NKRI. “Jadi, semua harus membuat sejuk, damai, termasuk media sebagai pilar demokrasi keempat,” jelas Zulkifli.

    Pesta demokrasi lima tahunan ini kata Ketua Umum PAN itu, sebagai konsekuensi demokrasi lima tahunan. Pemilu itu untuk memperbaharui komitmen dan kemitraan antara rakyat dengan wakilnya (DPR, DPRD, DPD RI), kepala daerah, dan Presiden RI. “Hanya setiap lima tahun. Jangan perang, tapi bersatu dan kokohkan NKRI,” tandasnya. (har)