AAJI Optimis Pertumbuhan Premi Asuransi Jiwa Capai 20 %

    64
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menargetkan, pendapatan premi asuransi jiwa tumbuh sekitar 10 hingga 20 persen. Pertumbuhan tersebut didasari adanya pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). "Kami optimistis pendapatan premi tumbuh sekitar 10 sampai 20 persen. IHSG bulan Februari 2019 sudah menunjukkan perbaikan," ujar Kepala Departemen Keuangan dan Pajak AAJI Simon Imanto dalam media workshop di Jakarta, Rabu (27/3).

    Media Workshop dengan tema lnvestasi Asuransi Jiwa tersebut selain menghadirkan Simon Imanto, hadir juga narasumber lainnya Kepala Kajian Kebijakan Makroekonomi dan Sektor Financial LPEM UI Febrio Kacaribu, Kepala Departemen Komunikasi AAJI Nini Sumohandoyo serta Direktur Eksekutif AAJI Togar Pasaribu.

    Tahun lalu, kata Simon, AAJI mencatat perlambatan premi 19,4 persen menjadi Rp 204,89 triliun. Jumlah itu berasal dari 59 perusahaan asuransi. Perlambatan tersebut, kata dia, disebabkan karena pengaruh kondisi pertumbuhan ekonomi global dan domestik. Namun pertumbuhan hasil investasi pada kuartal empat 2018 dapat dikatakan terus meningkat, yang memberi rasa optimistis di tahun ini akan mengalami pertumbuhan. "Ini menunjukkan IHSG sudah menguat dan industri mulai optimistis hasil investasi akan semakin membaik," ujar Simon.

    Sementara Febrio menilai, melambatnya pertumbuhan asuranai jiwa lebih disebabkan kultur masyarakat yang belum begitu memahami manfaat asuransi jiwa. Ia menilai, penetrasi pasar akan membaik jika melibatkan tokoh masyarakat tetang pentingnya asuransi jiwa. "Perlu juga melibatkan ulama bahwa usuransi jiwa itu sebuah produk halal," jelasnya.

    Febrio tidak menampik, tingkat pendapatan masyarakat mempengaruhi pertumbuhan asuransi jiwa. Oleh karena itu, Febrio menyarankan, pertumbuhan akan didapat jika agen asuransi menggarap wilayah Jabodetabek, karena secara finansial ekonomi masyarakatnya lebih baik dengan populasi penduduk yang mencapai 40 juta.

    Sementara itu, Kepala Departemen Komunikasi AAJI Nini Sumohandoyo mengatakan, AAJI dan industri asuransi jiwa akan terus berusaha untuk tetap menjaga kepercayaan masyarakat terhadap bisnis asuransi, dengan merekrut tenaga pemasaran berlisensi yang handal dan berkualitas.

    Selain itu, kata Nini, ada lima jenis investasi dengan proporsi terbesar terhadap total investasi pada kuartal empat 2018. Pertama, yaitu investasi reksa dana sebesar 33,8 persen. Kedua, investasi saham sebesar 32,9 persen. Selanjutnya, investasi surat berharga negara sebesar 14,4 persen. Adapula, deposito sebesar 8,6 persen. Terakhir, investasi sukuk korporasi sebesar 6,2 persen.

    Pemilu dan Pilpres

    Sementara Direktur Eksekutif AAJI Togar Pasaribu tetap optimis industri asuransi jiwa mengalami pertumbuhan meski di tahun politik. Menurut dia, perhelatan pemilu dan pilpres tidak akan memengaruhi industri asuransi jiwa karena bisnis tersebut bersifat jangka panjang. "Selain itu masih kecilnya penetrasi asuransi jiwa di Indonesia terhadap jumlah penduduk yang sangat besar, menunjukkan bahwa masih terdapat potensi pertumbuhan yang sangat besar, dengan pasar yang masih sangat terbuka,” ujar Togar.

    Dia pun menjelaskan, penurunan premi baru pada 2014 tidak secara langsung didorong oleh faktor tahun politik, meskipun AAJI tidak merinci faktor penyebabnya. Adapun, Togar menjelaskan, premi baru tercatat kembali meningkat pada 2015 menjadi Rp77,34 triliun dan pada 2016 menjadi Rp104,73 triliun. (son)