STP NHI Bandung Gandeng Victoria University Buka Kelas Internasional

    61
    BANDUNG (Bisnisjakarta)-
    Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) NHI Bandung and STP Nusa Dua Bali membuka kelas internasional dengan menggandeng Victoria University Polytechnic Melbourne, Australia, yang memungkinkan pertukaran mahasiswa dan program magang di Australia.

    Pemerintah Indonesia sedang fokus menyiapkan pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan kompetitif. Pada sektor pariwisata juga dilakukan hal yang sama yakni penyiapan SDM salah satunya dengan dibukanya kelas internasional berstandar global.

    Menpar Arief Yahya saat meresmikan Grand Launching International Class and English Languange Centre (ELC) di STP Bandung, Jawa Barat, Jumat (29/3) menjelaskan, kelas internasional ini merupakan kerja sama antara STP NHI Bandung and STP Nusa Dua Bali dengan Victoria University Polytechnic, Melbourne, Australia, untuk peningkatan standar kurikulum pendidikan dan meningkatkan kualitas SDM pariwisata.

    Implementasinya sendiri, lanjut Menpar, ahasiswa akan memiliki kesempatan untuk belajar 2 semester di Victoria University. Mereka juga akan menjalani magang di Australia sebagai salah satu peluang besar bagi mereka untuk mendapatkan pengalaman bekerja.

    Nantinya akan ada beberapa program-program yang dikembangkan oleh STP NHI Bandung dan STP Bali ELC antara lain pertama penguatan pembelajaran bahasa Inggris untuk hospitality bagi mahasiswa dan dosen. Lalu pelatihan kemahiran bahasa Inggris yang terkait dengan industri pariwisata dan perhotelan. Seperti di bidang kesekretariatan  dan petugas informasi atau contact center. Ketiga adalah untuk mempersiapkan dan Tes IELTS bagi mahasiswa, dosen, karyawan, dan masyarakat umum.

    Selain meresmikan kelas internasional, Arief menekankan pentingnya Perguruan Tinggi Negeri Pariwsata di bawah koordinasi Kemenpar untuk menerapkan 3C (Curriculum, Certification, Center of Excellence), yang merupakan basis standar dunia.

    Certification, jelas dia, mewajibkan semua lulusan sekolah di bawah Kemenpar, dosen, serta perguruan tingginya harus terstandarisasi dengan standar ASEAN. Sementara itu, center of excellence, mewajibkan setiap orang memiliki keahlian khusus untuk masuk ke dalam industri pariwisata. "Maka dari itu, saya meminta setiap sekolah pariwisata memiliki spesialisasinya masing-masing misal Bandung untuk kuliner, Bali untuk budaya, dan Lombok terkait wisata halal,‚ÄĚ tuturnya. (son)