Perkuat Layanan Navigasi Udara, Kemenhub Gandeng BMKG dan Basarnas

    38
    DENPASAR (Bisnisjakarta)-
    Kementerian Perhubungan melalui Ditjen Perhubungan Udara memperkuat kerjasama dengan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam rangka menjamin keamanan dan keselamatan penerbangan dan operasionalisasi bandara. Kerjasama ditandatangani di
    Terminal Kedatangan Domestik Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, Selasa (30/4).

    Dokumen kerjasama ditandatanagi antara Direktur Navigasi Penerbangan Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub Asri Santosa, Sekretaris Utama (Sestama) Basarnas Dianta Bangun, perwakilan dari BMKG, serta disaksikan sejumlah stakeholder dan instansi terkait lainnya.

    Momentum penandatanganan dokumen kerjasama juga diisi dengan pameran dan simulasi implementasi Seafty, Security, Service dan Conpliance (3S+1C), dimana simulasi terkait dengan penanganan BOM threat, penyanderaan petugas pengatur lalu litas, penanganan penumpang sakit dan evakuasi keadaan darurat gempa pada petugas menara lalu lintas udara.

    Asri Santosa menjelaskan, prestasi capaian pemenuhan tingkat kepatuhan dalam Universal Safety Oversight Audit Programme (USOAP) dari International Civil Aviation Organization (ICAO) yang telah diraih pada bidang navigasi penerbangan dengan nilai Effective Implementation (EI) sebesar 80,84 % menjadi landasan untuk dapat mempertahankan dan meningkatkan capaian tersebut. "Kolaborasi antara stakeholder penerbangan sipil merupakan fondasi yang wajib terus dibangun dan dipererat baik melalui pelaksanaan kerjasama teknis antarinstansi, maupun pelaksanaan simulasi kegiatan operasional penerbangan.

    Dia menambahkan, kerja sama antara Ditjen Hubud dengan Basarnas dan BMKG dalam rangka mendukung penyelenggaraan pelayanan informasi meteorologi, klimatologi dan geofisika dan penyelenggara pencarian dan pertolongan pada kecelakaan pesawat udara.

    Menurutnya, hal tersebut merupakan bentuk komitmen Ditjen Hubud sebagai regulator untuk menerapkan slogan 3S + 1C yaitu Safety (Keselamatan), Security (Keamanan) dan Services (Pelayanan) serta Compliance (pemenuhan terhadap aturan yang berlaku).

    Menjawab pertanyaan kenapa kerjasama ini baru dilakukan, Asri menegaskan, kerjasama secara real sudah lama terjalin, tetapi secara on paper baru dilakukan saat ini. Kenapa ini dilakukan, karena beberapa tahun lalu ada tuntutan dari ICAO mengeni kerjasama secara on paper dengan beberapa lembaga terkait mengenai keselamatan dan keamanan penerbangan.

    BMKG diperlukan, kata dia, mengingat data yang dihasilkan sangat penting untuk radar atau satelit yang sangat diperlukan dalam dunia penerbangan. Begitu pula dengan Basarnas, secara real kerjasama sudah berjalan dalam melakukan emergancy terkait keselamatan dan pertolongan pada setiap bencana.

    Dalam kesempatan yang sama, Ketua Pelaksana Kegiatan, Saeful Bahri memaparkan, capaian kinerja dan demo teknologi navigasi penerbangan dalam mendukung penyelenggaraan pelayanan transportasi udara bagi masyarakat umum. "Kegiatan ini adalah kaloborasi Ditjen Hubud, TNI/Polri, PT Angkasa Pura I dan PT Angkasa Pura II, AirNav Indonesia, Kantor Bea Cukai, Imigrasi dan Karantina Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali,” ungkap Saeful. (son)