Kebijakan Mentan Ekspor Bawang Merah Sebabkan Inflasi

    28
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Inflasi pada April 2019 tercatat 0,44%. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bawang merah dan bumbu-bumbuan, juga tarif angkutan udara menjadi penyebabnya. Terhadap hal ini, Pengamat Ekonomi Fithra Faisal menilai, kebijakan Kementerian Pertanian untuk mengekspor bawang merah adalah keputusan yang salah dan hanya populis semata. Naiknya harga bawang merah karena stok dalam negeri kurang, akhirnya menyebabkan inflasi.

    Fithra mempertanyakan, jika stok bawang merah Indonesia banyak hingga bisa ekspor, mengapa harga bawang bisa naik hingga akhirnya turut berkontribusi besar terhadap inflasi. "Ya dari logika awam saja bahwa ya ditahan dulu lah ekspornya dicoba untuk itu menjadi stok kelebihan produksinya supaya nanti bisa menahan volatilitas di bulan Ramadan. Nah dalam konsep itu saja, pengambilan kebijakannya sendiri saya rasa sudah cacat nalar," tegas Fithra kepada wartawan di Jakarta, Jumat (3/5)

    Sebagaimana diberitakan sebelumnya, pada akhir Maret 2019 silam, Meteri Pertanian, Amran Sulaiman mengumumkan adanya ekspor bawang merah sebanyak 70 ribu ton ke enam negara, termasuk di dalamnya Thailand dan India.

    Ia pun menegaskan bahwa kegiatan ekspor tersebut telah membuktikan Indonesia telah berubah dari negara pengimpor bawang merah menjadi pengekspor bawang merah. "Sekarang sudah melakukan serangan balik, yakni menjadi negara pengekspor. Sebanyak 70.000 ton bawang merah sudah diekspor ke enam negara seperti Thailand dan India. Pemerintah akan terus berupaya menjaga harga bawang merah tetap stabil, sehingga bisa menguntungkan petani, konsumen dan juga pedagang,” kata Amran saat kunjungan kerja di Brebes, Maret lalu.

    Lebih lanjut Fithra mengkhawatirkan, inflasi yang disebabkan harga bumbu-bumbuan ini dapat meningkat lagi pada bulan Mei 2019 atau pada bulan Ramadan. Lantaran diyakini permintaan bawang, baik itu bawang merah maupun bawang putih akan meningkat, sebagaimana yang selalu terjadi di setiap bulan Ramadan. "Nah bisa jadi karena ini datanya salah hitung atau gimana. Atau memang sudah tau datanya tetap memaksakan juga untuk diekspor karena untuk memenuhi KPI (key performance index)," ujarnya lagi.

    Sementara, Kepala Divisi Pergudangan, Persediaan dan Angkutan Perum Bulog, Mokhamad Suyamto mengatakan pemerintah perlu memiliki stok cadangan bawang merah di Tanah Air. Adanya stok diyakini bisa membuat permerintan mudah mengontrol harga komoditas hortikultura ini.

    Ia mengatakan,  selama ini pemerintah belum memiliki cukup stok cadangan bawang merah dan komoditas holtikultura lainnya. "Kan sama kayak beras pemerintah, selayaknya semua komoditas ada cadangan pangan pemerintah. Tapi untuk bawang merah belum ada," kata Suyamto.

    Sebabkan Inflasi

    Di tempat terpisah, Kepala BPS Suhariyanto menuturkan, inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya seluruh indeks kelompok pengeluaran. Antara lain kelompok bahan makanan sebesar 1,45% dan kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,19%.

    Sumbangan inflasi dari kenaikan komoditas bahan makanan pada periode April 2018 meliputi bumbu-bumbuan seperti seperti bawang merah, bawang putih, dan cabai merah. Merujuk data BPS, bawang merah memberi andil inflasi sebesar 0,13%, bawang putih memberi andil inflasi sebesar 0,09%, dan cabai merah sebesar 0,07%.

    Terlihat dalam kelompok bumbu-bumbuan, bawang merah memberi andil paling besar yang turut menyumbang inflasi pada April 2019. "Kenaikan harga bawang merah 22,93% sehingga beri andil 0,13%. Kedua, penyebab utama adalah bawang putih naik 35% harganya andilnya ke inflasi 0,09%. Ketiga cabai merah andilnya 0,07%, telur ayam ras dan tomat sayur andilnya 0,02%," kata Suhariyanto. (son)