Perluas Akses Pasar Ekspor, Indonesia Sasar Amerika Latin

    17
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita memulai kunjungan di Amerika Selatan, setelah bertolak dari Swiss menuju Argentina dan Cile guna memperluas akses pasar dan meningkatkan kerja sama perdagangan di kawasan Amerika Latin. "Langkah ini dinilai sebagai terobosan yang patut diapresiasi. Ini menunjukkan upaya sepenuh hati pemerintah untuk mendobrak pasar ekspor Indonesia yang selama ini terkesan klasik di negara-negara besar," kata Enggartiasto di Jakarta, Senin (13/5).

    Enggartiasto menyatakan, agenda kerja ini merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam membuka dan memperluas peluang pasar ekspor produk-produk Indonesia ke pasar nontradisional. Di Buenos Aires, Argentina, Mendag akan mengadakan pertemuan bilateral dengan Menlu dan Kepercayaan Argentina, Jorge Marcelo Faurie, serta sejumlah pertemuan dengan Asosiasi dan pelaku usaha di Argentina. "Total neraca perdagangan kedua negara saat ini mencapai 2 miliar dolar, namun masih defisit bagi Indonesia. Pertemuan ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan kinerja ekspor Indonesia terhadap Argentina,” kata Enggartiasto.

    Di Argentina, Mendag juga dijadwalkan bertemu dengan Mercosur ASEAN Chamber of Commerce (MACC), Kamar Dagang Impor Argentina, dan Dewan Argentina untuk Hubungan Internasional.
    Kunjungan kerja ke Argentina ini juga merupakan tindak lanjut kunjungan resmi Wakil Presiden Argentina Gabriela Michetti ke Indonesia yang diterima Wapres Jusuf Kalla. Pertemuan Wapres kedua negara tersebut membahas upaya peningkatan kerja sama dalam bidang perdagangan dan investasi.

    Usai melakukan kunjungan kerja ke Buenos Aires, Argentina, Mendag akan bertolak ke Cile untuk hadir pada pertemuan Menteri-Menteri Bidang Ekonomi kawasan Asia Pasifik (APEC Minister’s Responsible for Trade (MRT) di Vina Del Mar.

    Kunjungan ke Chili sekaligus untuk menindaklanjuti implementasi kesepakatan kerja sama ekonomi komprehensif Indonesia-Cile (Indonesia-Chili Comprehensive Economic Partnership Agreement/IC-CEPA). Enggar pun akan memimpin misi dagang Indonesia pada forum bisnis di Santiago. "Melalui kunjungan ini, Indonesia ingin memperkuat kolaborasi dengan Cile agar kedua negara dapat memanfaatkan IC-CEPA dengan maksimal,” imbuh Enggar.

    Selain membahas peluang yang akan diperoleh dari implementasi IC CEPA, kedua negara juga akan membahas mengenai tantangan-tantangan yang mungkin mucul dalam implementasi tersebut.

    Neraca perdagangan Indonesia -Cile pada kuartal pertama 2019 sendiri mengalami perbaikan setelah sebelumnya tren perdagangan kedua negara mengalami penurunan dalam lima tahun terakhir. Total nilai perdagangan kedua negara pada Januari-Februari 2019 mencapai 36,6 juta dolar. Nilai ini meningkat 31% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. "Indonesia optimis nilai ini akan terus meningkat dengan implementasi IC-CEPA karena IC-CEPA membuka peluang kedua negara untuk meningkatkan perdagangan barang dan jasa, investasi, serta kerja sama ekonomi," tutur Enggar.

    Enggar juga menegaskan kembali, Cile merupakan negara pertama di kawasan Amerika Latin yang melakukan perjanjian kerja sama perdagangan dengan Indonesia. Cile sendiri merupakan negara dengan ekonomi tertinggi di kawasan ini.

    Produk Domestik Bruto (PDB) Cile mencapai 24.600 dolar AS pada 2017. Cile juga berada dalam kondisi ekonomi dan politik yang baik dan stabil. Selain itu, Chili memiliki garis pantai menghadap Samudra Pasifik sehingga menjadikannya strategis sebagai hub bagi akses Indonesia dengan negara-negara di Amerika Latin lainnya.

    National Branding

    Kunjungan mendag ke Argentina untuk memperluas akses pasar di Amerika Latin pun mendapat acungan jempol dari ekonom Universitas Brawijaya, Candra Fajri Ananda. Menurutnya, langkah ini bisa menjawab kebosanan dari terlalu klasiknya pasar ekspor Indonesia selama ini. Lebih daripada itu, kerja sama dengan negara-negara Amerika Latin pun dapat memperkuat national branding Indonesia sehingga mampu lebih memiliki dukungan di tingkat global. "Perlu diapresiasilah usahanya. Selama ini kan pasar Indonesia itu terlalu klasik, kayak Amerika, China. Perluasan pasar itu perlu,” ujarnya.

    Tidak hanya terkait perdagangan, secara khusus ia menyoroti keuntungan Indonesia dalam meningkatkan national branding-nya melalui kerja sama semacam ini. Apalagi mengingat negara-negara yang tergabung di Amerika Latin cukup banyak. "Misalnya di PBB, satu negara kan dihitung satu suara. Jadi makin banyak perluasan pasar kayak begini, dukungannya juga semakin banyak,” imbuh Candra.

    Hanya saja memang kalau untuk harapan bisa memutar balik kondisi defisit perdagangan, Cuma mengandalkan perluasan pasar ke Amerika Latin tidaklah cukup. Dikarenakan pertumbuhan ekonomi di negara-negara tersebut tidaklah terlalu besar. Ditambah lagi jarak yang jauh membuat pasar semacam Argentina, Cile, dan Meksiko menjadi kurang menarik bagi para pengusaha.

    Untuk itulah, perlu upaya memperluas pasar lebih jauh lagi. Profesor ini berpandangan, pasar yang cukup potensial untuk bisa berkontribusi besar dalam perdagangan luar negeri Indonesia adalah kawasan Timur Tengah dan Afrika Barat. "Untuk alasan ekonomi, Timur Tengah bagus. Lalu Afrika Barat juga. Afrika ini kana palagi tidak terlalu repot soal kualitas produk,” pungkasnya. (son)