BTN Akuisisi Anak Usaha PNM

    22
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    PT Bank Tabungan Negara (BTN) melaksanakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Jumat (17/5) sore. Salah satu agenda yang disepakati adalah persetujuan pengambilan atau akuisisi PT Permodalan Nasional Madani Investment Management (PNM IM).

    Dirut BTN Maryono mengatakan, pemegang saham sepakat agar BTN menjadi pemegang saham mayoritas di PNM IM. Aksi korporasi ini akan dilakukan secara bertahap. "Kami dapat kepercayaan untuk jadi mayoritas bertahap dimulai 30% sesuai persetujuan OJK," ujar Maryono usai RUPS Tahunan.

    Sementara Direktur Aset Manajemen Nixon Napitupulu menambahkan, sebelum akhir tahun BTN akan mengambil 30% lagi saham PNM IM. Saat ini masuk dilakukan perhitungan valuasi menggunakan laporan keuangan Maret 2019. "Tahun depan (kepemilikan saham) 60-85%. Mekanismenya bisa lewat right issue, harganya berdasarkan valuasi," ujarnya. 

    Pada 22 April 2019, BTN dan PNM selaku pemegang saham PNM IM menyepakati penjualan 30% saham ke BTN. Akuisisi ini dilakukan untuk memperluas cakupan bisnis utama BTN yaitu pembiayaan perumahan. "PNM IM menunjukan pertumbuhan yang baik. Untuk itu kami sudah lakukan due dilligence untuk berikan saham sementara kurang lebih 30% dan akan kita tingkatkan lagi," tambah Maryono.

    Sebelumnya, proses akuisisi ini diawali dengan penandatanganan Perjanjian Pembelian Saham Bersyarat (Conditional Shared Purchase Agreement/CSPA). BTN membeli 33.000 lembar saham atau setara 30% saham PNM dari PNMIM. Dari aksi pembelian ini, BTN mengeluarkan dana senilai Rp114,3 miliar.

    Bagi Dividen

    RUPST juga memutuskan pembagian dividen sebesar Rp561,58 miliar atau setara 20% dari laba bersih di 2018. "RUPST menyetujui BTN membagikan dividen sebesar 20% dari laba bersih tahun 2018 atau sekitar Rp561,58 miliar. Nilai dividen per unit saham sebesar Rp53,029 miliar," ujar Maryono.

    Sementara sebesar 80% dari laba bersih ditahan perseroan atau setara dengan Rp2,24 triliun, yang akan digunakan BTN untuk ekspansi kredit, penguatan modal dan pengembangan usaha perseroan.

    Adapun, total aset BTN tahun 2018 mencapai Rp306,4 triliun, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp261,4 triliun. Pertumbuhan aset tersebut mencapai 17,24% atau berada di atas rata-rata industri yang tercatat 9,21%. Sementara itu kredit dan pembiayaan yang diberikan tercatat mencapai Rp237,8 triliun, meningkat dibanding tahun 2017 yang sebesar Rp198,9 triliun.

    Dengan kinerja 2018, BTN tetap optimis menghadapi tahun 2019 dengan memasang target peningkatan aset sebesar 11%-13% yang akan didukung oleh peningkatan kredit dan Dana Pihak Ketiga (DPK). Dengan membaiknya sektor properti, kredit dan pembiayaan diharapkan tetap melaju dengan pertumbuhan 12%-14%, sementara DPK ditargetkan tumbuh di angka yang sama yaitu 12%-14%. (son)