Neraca Perdagangan Defisit, Ini Pemicunya

    17
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Anjloknya ekspor produk industri pengolahan disinyalir menjadi pemicu defisit neraca perdagangan yang mencapai 2,5 miliar dolar pada April. Pasalnya pertumbuhan negatif dari industri pengolahan bersumbangsih besar dalam menurunkan nilai ekspor pada April hingga 13,10%.

    Deputi Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Yunanti Rusanti mengemukakan, nilai ekspor industri pengolahan mengalami penurunan yang cukup signifikan pada April lalu. Secara year on year, nilainya turun hingga 11,82%.Tak ayal ini membuat pertumbuhan ekspor secara keseluruhan pun sulit terangkat dan tercatat negatif hingga 13,10%. "Ada hubungannya langsung atau nggak, kita nggak meneliti sejauh itu. Tapi, kemungkinan bisa jadi,” ujarnya kepada wartawan di Jakarta, Kamis (16/5). 

    Ekspor industri pengolahan merupakan kontributor terbesar yang membentuk total nilai ekspor Indonesia. Porsinya pada April mencapai 74,77% dari total ekspor pada bulan yang sama. Nilainya sendiri berada di angka 9,42 miliar dolar.

    Perhiasan menjadi produk industri yang mengalami penurunan ekspor paling tajam periode yang sama. Di mana BPS mencatat, nilai ekspor perhiasan turun hingga 339,2 juta dolar pada bulan lalu. 

    BPS sempat merilis adanya perlambatan produksi industri besar dan sedang (IBS) pada kuartal I, dimana tingkat pertumbuhan IBS hanya 4,,45 % dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut melorot dibandingkan tingkat pertumbuhan produksi IBS pada kuartal I-2018 yang secara year on year berada di angka 5,36%. 

    Di sisi lain Yunita menjelaskan, impor sebenarnya tidak bertumbuh signifikan. Bahkan jika membandingkan nilainya secara tahunan terjadi penurunan. "Kalau yang impor kalau dibandingkan dengan tahun lalu, sampai dengan April ini lebih rendah dibandingkan tahun 2018. Nilai-nilainya lebih rendah. Saya bicara total impor,” paparnya. 

    Tercatat impor secara tahunan turun 7,24%. Dari posisinya di angka 60,12 miliar dolar pada periode Januari—April 2018 menjadi 55,77 miliar dolar pada periode yang sama tahun ini. 

    Sebagian besar impor pun tercatat berupa bahan baku dan penolong sebesar 75,09%. Sementara itu, besaran nilai bahan modal mencapai 16,30% dari total impor. Barulah ada kontribusi barang konsumsi sebesar 8,61%. Sekadar informasi, kontribusi impor barang konsumsi ini turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 9,06%.

    Sebelumnya, BPS juga sempat merilis adanya perlambatan produksi industri besar dan sedang (IBS) pada kuartal I. Di mana tingkat pertumbuhan IBS hanya 4,,45 % dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut melorot dibandingkan tingkat pertumbuhan produksi IBS pada kuartal I-2018 yang secara year on year berada di angka 5,36%. 

    Melambatnya pertumbuhan industri pengolahan dinilai memiliki pengaruh yang besar terhadap kinerja ekspor nasional. Masalahnya kebijakan industri hingga kini tidak mengalami perubahan berarti.  "Sekian tahun industri kita ini mandeg,” ujar Candra.

    Buktinya, kata dia, saat ini sulit menemukan industri baru yang bisa berkembang. Hal ini menurutnya merupakan dampak dari kebijakan industri nasional yang berpaku pada kebijakan substitusi impor. Padahal bisa jadi kebijakan itu sudah tidak lagi cocok dengan kebutuhan indonesia saat ini. 

    Menurutnya seharusnya Indonesia bisa menjadi bagian dari industri dunia. "Misalkan korea bikin mobil. Ya sudah kita sediakan jok nya atau kampas remnya. Jadi menjadi bagian dari itu. Jangan memproduksi mobil," ujar dia 

    Meski daya saing nasional dikatakan sempat meningkat, Candra menilai keterbatasan pasar turut memperparah lesunya kinerja ekpor ini. "Makanya kemarin Kementerian Perdagangan melakukan kerjasama dengan beberapa negara di Amerika Latin jadi memperluas ekspansi pasar, harapannya mungkin itu," kata dia. (son)