Polri Sebut Serangan Teroris Manfaatkan Momentum Pengumuman Hasil Pemilu

    15
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Kadiv Humas Polri Irjen M. Iqbal mengindikasikan kelompok teroris yang akan memanfaatkan momen pengumuman rekapitulasi hasil Pemilu 2019 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 22 Mei 2019. Untuk itu, masyarakat diimbau tidak turun ke jalan atau melakukan aksi unjuk rasa.

    Polisi menyebut kelompok teroris diduga akan menyasar kerumunan masyarakat saat KPU RI mengumumkan pemenang Pemilu 2019. "Karena diduga teroris akan memanfaatkan momentum tersebut, pada tanggal 22 Mei. Kami himbau masyarakat tidak turun (ke jalan), ini akan membahayakan. Karena mereka (kelompok terduga teroris) akan menyerang semua massa, termasuk aparat," kata M. Iqbal dalam konferensi pers tentang di Gedung Humas Mabes Polri, Jumat (17/5).

    Imbauan disampaikan sebagai upaya prefentif atau pencegahan agar masyarakat tidak menjadi sasaran serangan teroris. “Itu yang dinamakan tadi dengan melakukan penangkapan yaitu prefentif strike, penegakan hukum untu pencegahan,” kata Iqbal.

    Sebelumnya, Tim Detasemen Khusus Antiteror 88 Mabes Polri telah menangkap 68 terduga teroris di berbagai wilayah di Indonesia. Penangkapan puluhan teroris itu dilakukan sejak dari Januari hingga pertengahan Mei 2019.

    Dari total tersangka tersebut, tujuh orang meninggal ditembak karena melakukan perlawanan. Sedangkan, satu orang tewas usai meledakkan diri saat penangkapan dilakukan di Sibolga, Sumatera Utara beberapa waktu lalu.

    Dalam video yang diputar juga diungkap Polri telah menangkap sebanyak 29 terduga teroris jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) selama bulan Mei 2019. Penangkapan dilakukan di Jakarta, Bekasi, Karawang, Tegal, Nganjuk, dan Bitung.

    Salah satu peran terduga teroris tersebut yaitu berencana memanfaatkan momen hasil pengumuman rekapitulasi resmi Pemilu 2019 oleh KPU pada 22 Mei 2019. "Keterlibatan tersangka kelompok JAD, yaitu menyembunyikan DPO JAD di Lampung, merencanakan aksi amaliyah atau teror dengan menyerang kerumunan massa pada 22 Mei mendatang dengan menggunakan bom,” ujarnya.

    Dalam sebuah video yang ditayangkan Polri, seorang terduga teroris yang mengaku berinisial DY alias Jundi alias Bondan, mengungkapkan akan menyerang kerumunan massa, saat 22 Mei tersebut.

    DY alias Jundi juga mengaku telah merangkai bom untuk aksi tersebut. Ia memilih momentum tersebut karena dinilai tak sesuai dengan keyakinannya. "Yang mana pada tanggal tersebut, sudah kita ketahui bahwa di situ akan ada kerumunan massa yang merupakan event yang bagus untuk saya untuk melakukan amaliyah, karena di situ memang merupakan pesta demokrasi yang menurut keyakinan saya adalah sirik akbar yang membatalkan keislaman. Yang termasuk barokah melepas diri saya dari kesyirikan tesebut," ujar DY seperti dikutip dari video tersebut.

    Sebelumnya, Densus 88 telah menangkap terduga teroris kelima berinisial JM alias Jundi alias Diam, di Jepara, Jawa Tengah. Menurut M. Iqbal, Densus 88 sudah melakukan beberapa antisipasi, misalnya dengan penangkapan atau preventive strike.

    Namun, Polri tidak menganggap remeh kelompok tersebut. Oleh karena itu, Polri terus bekerja untuk mengantisipasi dan menjaga keamanan. "Densus 88 tentu sudah memiliki strategi. Sehingga Alhamdullilah beberapa hari lalu kami dapat melakukan upaya paksa kepolisian yaitu penangkapan terhadap kelompok ini," tegas M. Iqbal. (har)