Doa Masyarakat Kuatkan Semangat Hidup Ani Yudhoyono

    16
    JAKARTA (Bisnisjakarta)- 

    Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengenang momen ketika istrinya, almarhumah Kristiani Herrawati (Ani Yudhoyono) berjuang melawan kanker darah yang dideritanya.

    SBY menuturkan saat berjuang melawan penyakitnya almarhumah Ani Yudhoyono sering meneteskan air mata karena terharu menyaksikan doa masyarakat untuk kesembuhannya yang datang dari berbagai macam latar agama, suku, maupun ras. Doa itu, menurut SBY telah memberi kekuatan bagi isterinya untuk tetap semangat berjuang melawan penyakitnya. "Namun Allah subhanahu wa ta'ala, Tuhan yang maha kuasa menentukan yang lain. Saya yakin sebagai seorang yang beriman keputusan Allah, keputusan Tuhan pasti lebih baik dari apa yang dipikirkan oleh manusia," ucap SBY dalam sambutan keluarga di Pendopo Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Minggu (2/6) sebelum berangkat menuju lokasi pemakaman Ibu Ani di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan.

    SBY mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang selama ini terus mendoakan kesembuhan istrinya. Dia juga menaruh hormat kepada kolega, sahabat maupun masyarakat yang sejak kemarin hingga hari ini terus berbondong-bondong datang menemuinya untuk bertakziah mengucapkan rasa bela sungkawa. "Saya dan keluarga mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada para sahabat yang hadir hari ini ataupun di manapun berada atas ketulusan dan keikhlasan untuk mendoakan kesembuhan Ibu Ani," ucap Ketua Umum Partai Demokrat tersebut.

    Di kesempatan lain, SBY menjelaskan saat dalam perawatan di National University Hospital Singapura, kondisi kesehatan isterinya sempat membaik sebelum masuk ke kondisi kritis hingga akhirnya meninggal dunia. Saat kondisinya membaik, hasil pemeriksaan dokter menyatakan sel kanker di tubuh Ani sudah berkurang drastis. "Sekitar tiga minggu sebelum ada krisis ini sebetulnya, perkembangannya positif. Bahkan kami punya harapan insyaAllah bisa disembuhkan. Dan memang dokter mengatakan sel-sel kanker dalam tubuh menurun secara tajam," ungkap SBY.

    Penurunan kondisi kesehatan tersebut seiiring dengan adanya ledakan jumlah sel kanker secara tajam. Situasi ini membuat kondisi Ani mendadak berubah dan kembali memburuk. "Itu (sel kanker) meningkat dengan sangat tajam sehingga tim dokter kewalahan, sehingga masuk ICU dengan perlakuan khusus. Saya dua hari dua malam ada di tempat istri tercinta berjuang untuk melawan kanker yang ganas," cerita SBY sambil terisak.

    Selama masa kritis itu, SBY mengaku ada dukungan moril yang diterimanya dari orang-orang sekitarnya. Bahkan perawat di rumah sakit memberikan dukungan kepadanya.

    Beberapa perawat dari rumah sakit di Singapura, menurut SBY menyebut  Madam Ani is a strong woman. "Ini semestinya sudah kembali ke maha kuasa karena begitu kerasnya hantaman itu. Diserang di berbagai organ tubuh tapi masih tetap bertahan," ucap SBY. "Dia (Ani) orang yang tough (tangguh) dan tidak mau menyerah. Dia bilang sama saya 'saya pasrah tapi tidak menyerah' sampai pada batas yang dia bisa mencapainya," sambung SBY.

    Pada detik-detik saat Ani Yudhoyono mengembuskan nafas terakhirnya juga dituturkan SBY. Sebelum meninggal dunia, Ani Yudhoyono sudah dibius total. Kendati sudah dibius total, SBY meyakini istrinya bisa merasakan keberadaannya dan anak-anaknya. Hal itu bisa dilihat dari air mata yang menetes membasahi pelupuk matanya. "Saat itu dibius total sehingga tidak mudah berkomunikasi, tetapi saya melihat di pelupuk matanya ada titik-titik air mata. So she was listening to us. Karena mungkin orang-orang yang disayangi itu masuk dalam hati dan pikiran. 'Memo kami semua ada di sini'. Air mata yang jatuh itu adalah air mata cinta, air mata kasih dan air mata sayang," kenang SBY.

    SBY melanjutkan wajah ibu Ani terlihat bahagia, rileks dalam keadaan seperti itu. "Dan memang beberapa saat kemudian dengan sangat tenang kembali ke hadapan Sang Pencipta. Saya ucapkan, 'Ibu, selamat jalan semoga Memo hidup tenang di sisi Allah'," kata SBY lagi.

    Ani Yudhoyono meninggal dunia di National University Hospital Singapura pada hari ini, Sabtu sekitar 11.50 waktu setempat. Sebelum mengembuskan nafas terakhirnya, Ani sempat berjuang melawan penyakit kanker darah sejak Februari 2019. (har)