Kenali Fibrilasi Atrium Sejak Dini Dengan Cara Menari

    34
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Fibrilasi Atrium (FA) adalah kelainan irama jantung yang ditandai dengan denyut jantung tidak teratur baik cepat maupun lambat. Fibrilasi Atrium merupakan penyakit distrik jantung yang sering ditemui bahkan merupakan salah satu penyakit jantung yang paling sering didapatkan di klinik. Di Indonesia diduga ada sekitar 2.2 juta orang yang menderita Fibrilasi Atrium.

    Beberapa keadaan dapat menjadi faktor risiko terjadinya Fibrilasi Atrium yaitu bertambahnya usia, hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung koroner dan faktor genetik.

    Dilaporkan, hingga 40% kejadian stroke berhubungan dengan adanya Fibrilasi Atrium hal ini dapat terjadi karena pada Fibrilasi Atrium terdapat kemudahan untuk terbentuk gumpalan darah di serambi jantung. Bila gumpalan darah tersebut lepas maka umumnya akan tersangkut di pembuluh otak sehingga menimbulkan sumbatan dan menyebabkan stroke iskemik. Disamping itu Fibrilasi Atrium juga dapat menyebabkan gagal jantung.

    Mengingat besarnya prevalensi Fibrilasi Atrium di Indonesia dan tingginya risiko stroke yang akan berdampak luas secara ekonomi dan sosial, maka sangat penting untuk mendeteksi secara dini kejadian Fibrilasi Atrium di masyarakat.

    Ketua Pelaksana Kampanye Fibrillasi Atrium 2019 dr. Reynold Agustinus Hasudungan Manullang, Sp.JP(K), FIHA mengatakan, terlambatnya deteksi dini Fibrilasi Atrium mengakibatkan terjadinya komplikasi yang fatal serta memerlukan biaya pelayanan kesehatan yang cukup tinggi. Selain itu Fibrilasi Atrium juga dapat meningkatkan resiko terjadinya kematian jantung mendadak pada penderita sakit jantung.

    Selain penyakit jantung koroner dan hipertensi sebagai penyebab utama mortalitas dan morbiditas di seluruh dunia, kata Reynold, diketahui pula bahwa ternyata Fibrilasi Atrium merupakan aritmia yang paling sering dijumpai pada populasi umum.

    Berbicara mengenai Fibrilasi Atrium, Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), FIHA, FasCC, FEHRA, Guru Besar Ilmu Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI mengatakan, FA merupakan kelainan irama jantung berupa detak jantung yang tidak regular sering dijumpai pada populasi di dunia dan di Indonesia.

    Namun disayangkan, kata Yoga,  pengetahuan dan kepedulian tentang Fibrilasi Atrium sampai saat ini masih rendah, padahal Fibrilasi Atrium dapat menyebabkan bekuan darah di jantung yang bila lepas ke sirkulasi sistemik dan dapat menyebabkan stroke.

    Penderita Fibrilasi Atrium, kata Yoga, memiliki risiko 5 kali lebih tinggi untuk mengalami stroke dibandingkan orang tanpa Fibrilasi Atrium. Kelumpuhan merupakan bentuk kecacatan yang sering dijumpai pada kasus stroke dengan Fibrilasi Atrium. Pada 37% pasien Fibrilasi Atrium usia kurang dari 75 tahun, stroke iskemik merupakan gejala pertama yang didapati.

    Di Indonesia, kata dia, banyak insiden kelumpuhan akibat Fibrilasi Atrium terjadi pada usia produktif, yaitu di bawah usia 60 tahun. Kelumpuhan yang diderita pasien Fibrilasi Atrium memiliki ciri khusus, seperti memiliki tingkat keparahan yang tinggi, bersifat lama dan sering berulang (relapse). "Rata-rata, sekitar 50% pasien yang terkena stroke ini akan mengalami stroke kembali dalam jangka waktu 1 tahun,” jelas Yoga.

    Tentang terapi advanced yang dapat dilakukan bagi pasien Fibrilasi Atrium, Yoga menerangkan, setidaknya terdapat 3 teknik yang dapat dilakukan yaitu teknik Ablasi kateter, melakukan pemasangan alat LAA Closure, serta pemakaian Obat Antikoagulan Oral Baru (OKB).

    Di Indonesia, jelasnya, SDM yang mampu menggunakan alat Ablasi kateter sudah cukup banyak, namun jumlah dan distribusi alat tidak merata di samping permasalahan lainnya, yaitu saat ini terapi OKB belum masuk ke dalam layanan BPJS kesehatan padahal terapi OKB merupakan lompatan besar dalam terapi Fibrilasi Atrium. "Selain lebih efektif, OKB dapat mengatasi permasalahan risiko perdarahan, reaksi silang antarobat," paparnya.

    Kampanye Fibrilasi Atrium

    Upaya deteksi Fibrilasi Atrium tersebut tidak akan memberikan hasil yang optimal jika tidak melibatkan peran serta masyarakat dan media. Untuk itu diperlukan upaya peningkatan kesadaran masyarakat dan kalangan non-medis lain tentang pentingnya dan risiko Fibrilasi Atrium.

    Dalam konteks inilah kampanye
    Fibrilasi Atrium dilakukan oleh InaHRS (Indonesia Heart Rhythm Society). Kampanye ini di dunia pertama kali mulai di Amerika Serikat, dipelopori oleh Heart Rhythm Society (Perhimpunan Dokter Jantung ahli Gangguan Irama se Dunia) beserta National Stroke Association (Badan Kesehatan Amerika yang menangani stroke) pada tahun 2012.

    Sedangkan di Indonesia, kampanye ini dilakukan pertama kali tahun 2016 dipelopori oleh Peritmi/InaHRS (Perhimpunan Dokter Jantung Ahli Arimia Indonesia) bersama dengan Asia Pasific Heart Rhthym Society (APHRS), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Yayasan Jantung Indonesia.

    Kampanye Fibrilasi Atrium tahun ini mengambil tema Waspada Bahaya Fibrilasi Atrium, Stroke dan Sudden Death. InaHRS didukung oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Yayasan Jantung Indonesia menjadi penyelenggara kampanye untuk meningkatkan kewaspadaan dan kepedulian masyarakat Indonesia terhadap gangguan irama Fibrillasi Atrium serta komplikasi yang dapat terjadi.

    Dalam kampanye ini kembali ditekankan gerakan “MENARI”: (Meraba Nadi Sendiri). “MENARI” merupakan salah satu cara mudah untuk mengenali Fibrillasi Atrium serta gangguan irama lainnya yang diharapkan dapat mencegah kelumpuhan akibat Fibrillasi Atrium.

    Pemberdayaan masyarakat yang mengandung makna perubahan kecil seperti konsumsi makanan sehat, tidak minum alkohol, lebih banyak berolahraga dan stop merokok dapat memberikan perbedaan yang bermakna terhadap kesehatan dan dapat menjadi inspirasi global. (son)