JAKARTA (Bisnis Jakarta) – Laba bersih sebesar Rp885 juta berhasil diraih PT Tira Austenite (TIRA) Tbk pada 2018 lalu. Laba tinggi tersebut melebihi dari hasik tahun sebelumnya yang mencatatkan kerugian Rp10,11 miliar.

Selain itu, di sepanjang 2018 TIRA berhasil membukukan penjualan bersih yang tumbuh 17,97% dari Rp243,36 miliar menjadi Rp287,10 miliar. Presiden Direktur TIRA, Selo Winardi menjelaskan, laba perusahaan tahun lalu didorong oleh pertumbuhan bisnis yang cukup bagus. Di antaranya kontribusi terbesar dari segmen baja, yang sebelumnya terpuruk, mengalami kebangkitan, tumbuh 24% melewati target perusahaan.

Pasar yang menjadi faktor eksternal, lanjut Selo, sangat berpengaruh karena beberapa segmen yang menjadi fokus sedang bagus. Seperti batu bara, tahun kemarin banyak yang panen sehingga banyak perusahaan yang melakukan pengembangan. Pasar lainnya yang turut menyumbang, antara lain Power Plant Group dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan Palm Oil.

“Selain itu dari sisi internal, kami memperbaiki supplay chain dan menjalin kerja sama dengan prinsipal luar negeri,” ujar Selo.

Tahun ini, lanjut Selo, prospek bisnis masih cukup bagus. Perusahaan sendiri secara total menargetkan pertumbuhan 22%, yang akan disumbang dari sektor tambang seperti baja 21%, gas 10%, dan manufaktur 20%. Selain itu, juga ada beberapa pengembangan, namun tidak menjadi target, tapi bisa menjadi safety net. “Bukan tanpa kendala, kami juga harus mewaspadai fluktuasi valas, kami juga berharap kebijakan pemerintah tidak berubah,” jelas Selo.

Selo juga berharap pertumbuhan akan didorong oleh beberapa pengembangan perusahaan yang telah dijalankan sejak tahun lalu. Di antaranya bekerja sama dengan Hamana Works Co Ltd (85%) dan PT Tira Austentie Tbk (15%), membentuk perusahaanjoint venture PT Hamana Works Tira Indonesia (HWTI).

Perusahaan ini telah membangun pabrik di Tegal dan saat ini sedang tahap instalasi mesin-mesin produksi. PT HWTI saat ini telah memproduksi satu unit car carrier sebagaimock-up product sebelum mulai produksi dalam jumlah besar.

Pengembangan lainnya, PT Alpha Austenite sebagai anak usaha PT Tira Austenite Tbk telah melakukan proses joint venture dengan PT Stahlindon Engineering untuk membuatexotic alloy manufacturing company di Cileungsi, Bogor dengan nama PT Tira Stahlindo Indonesia (TSI) dengan komposisi saham 60% PT Alpha Austenite dan 40% PT Stahlindo Engineering.

Anak perusahaan lainnya, PT GLS juga telah menjalin kerja sama dengan prinsipal dari Jerman (Syntelix AG) untuk pemasaran produk metal implant for bone ke pasar kedokteran/kesehatan. Saat ini sudah memeroleh perizinan dari Kementerian Perdagangan dan Kementerian Kesehatan sehingga akan segera dimulai tahapan komersialisasi untuk penjualan produksyntellix di pasar Indonesia.

Satu lagi, untuk mengantisipasi perkembangan ekonomi dunia, perseroan telah mengakuisisi 20% saham PT Batam Citra International yang berlokasi di Batam. Selanjutnya, perseroan berencana mengembangkan bisnis dengan memanfaatkan peluang bisnis di Batam sehubungan dengan perubahan pola perdagangan global. (grd)