BPTJ Dorong Angkutan Massal Gunakan Energi Listrik

    26
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) mendorong operator pelayanan angkutan umum massal berbasis jalan di Jabodetabek untuk segera merintis penggunaan bus bertenaga listrik.

    Kepala BPTJ Bambang Prihartono menyebutkan dalam waktu dekat ada operator yang siap meluncurkan pelayanan angkutan Bus Transjabodetabek dengan menggunakan unit bus bertenaga listrik. "Angkutan umum massal dengan menggunakan bus bertenaga listrik akan segera diluncurkan oleh salah satu operator dan saya berharap segera disusul operator lainnya," kata Bambang Prihartono.

    Menurut Bambang Prihartono, penggunaan angkutan umum massal bus bertenaga listrik merupakan salah satu langkah konkret untuk mewujudkan transportasi massal ramah lingkungan sesuai Perpres no 55 tahun 2018 tentang Rencana Induk Transportasi Jabodetabek (RITJ). "Satu dari 9 pilar yang harus menjadi acuan dalam pembenahan transportasi di Jabodetabek berdasarkan RITJ adalah transportasi ramah lingkungan," jelas Bambang.

    Langkah-langkah kongkret menuju transportasi ramah lingkungan menurut  Bambang perlu segera dimulai. Hal ini menjadi sangat relevan apabila melihat situasi beberapa waktu belakangan ini dimana kualitas udara langit Jakarta  mendapatan sorotan berbagai pihak karena tidak sehat. Menyikapi hal itu, Bambang mengajak semua pihak untuk berbuat kongkret meningkatkan kualitas udara Jakarta.

    Apalagi lanjut Bambang, Jakarta baru saja mendapatkan predikat urutan 3 terbaik kota di dunia dalam hal perbaikan sistem transportasi pada ajang Sustainable Transport Award 2019 yang diselenggarakan di Brasil. "Transportasi di perkotaan merupakan salah satu faktor yang berkontribusi pada kualitas udara, oleh karena itu selain mengupayakan agar semakin banyak pengguna kendaraan pribadi beralih menggunakan angkutan umum massal agar terhindar dari kemacetan, maka angkutan umum massal khususnya yang berbasis jalan juga harus didorong bebas emisi dengan penggunaan bus bertenaga listrik," jelas Bambang.

    Pelaju Bodetabek

    Selain predikat terbaik ke 3 dalam ajang Sustainable Transport Award 2019 yang diselenggarakan di Brasil, Jakarta juga baru saja mendapat pengakuan dari TomTom Index sebagai kota yang mengalami penurunan kemacetan cukup baik yaitu sebesar 8 % di tahun 2018.

    Selain upaya keras dari semua kelembagaan dan instansi dengan berbagai kebijakan, pencapaian ini juga tidak lepas dari kontribusi masyarakat pelaju (komuter). "Berbicara masalah permasalahan transportasi di Jakarta tidak mungkin mengesampingkan peran daerah sekitarnya  khususnya Bodetabek," kata Bambang.

    Jutaan orang Bodetabek setiap  pagi melakukan perjalanan ke Jakarta dan sore/malam harinya kembali lagi dari tempat kerjanya di Jakarta  menuju tempat tinggalnya di Bodetabek.

    Masyarakat pelaju yang dengan kesadaran tinggi menggunakan angkutan umum massal sebenarnya memiliki kotribusi penting dalam menciptakan kondisi transportasi yang lebih baik. "Merekalah yang sesungguhnya perlu mendapatkan apresiasi, dan kita harapkan jumlahnya akan semakin bertambah," urai Bambang.

    Setidaknya saat ini terdapat kurang lebih 1 juta orang/hari menggunakan kereta komuter,  700 ribu orang /hari menggunakan Transjakarta, 80 ribu orang/hari menggunakan MRT, belum lagi demand angkutan bus JR Connexion dan JA Connexion yang semakin tumbuh.

    Bambang menambahkan sebagai bentuk apresiasi masyarakat yang telah menggunakan angkutan umum, Pemerintah akan semakin keras bekerja untuk mewujudkan perbaikan transportasi Jabodetabek yang terus meningkat dari waktu ke waktu. "BPTJ bersama-sama stakeholder yang lain tidak akan menyiakan-nyiakan kepercayaan masyarakat yang sudah mulai tumbuh terhadap pelayanan angkutan umum massal di Jabodetabek, kami akan terus bekerja keras melakukan pembenahan transportasi Jabodetabek dengan berpedoman pada RITJ," tutup Bambang. (son)