Pemerintah Perlu Gali Potensi Cukai Industri Lain, Industri Ini Diantaranya

    0
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Pemerintah perlu lebih kreatif menggali dan memperluas sumber pendapatan. Selain meningkatkan tax ratio, juga menggali sumber cukai yang belum digarap, bukan mengutak-atik cukai dari sektor industri yang sudah menjalankan kewajibannya secara baik dan memenuhi target. Hal tersebut disampaikan  Pengamat Ekonomi Berly Martawardaya dan Ketua Bidang Ekonomi Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Anshor (GP Ansor)  Sumantri Suwarno di Jakarta, Senin (8/7).

    Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Berly Martawardaya  mengatakan, memang pada periode Januari-Maret kondisi keuangan negara menipis. Namun mulai akhir Maret serta April dan seterusnya seiring dengan pembayaran pajak tahunan dan mengalirnya pemasukan negara dari sektor lainnya, kondisi keuangan mulai stabil.

    Menurut Berly, meski perekonomian negara masih perlu perbaikan, namun secara garis besar para pejabat negara yang mengawal keuangan dan perekonomian nasional sudah berjalan pada arah yang benar.  Hal yang perlu diperbaiki selain peningkatan ekspor dan pengurangan import,  juga  menggali potensi sumber pendapatan yang selama ini belum disentuh atau belum direalisasikan.

    Selain pajak, Berly juga menyoroti cukai potensi cukai yang ada di luar negeri tapi di dalam negeri belum dikenakan cukai. Salah satunya adalah cukai minuman bersoda maupun minuman yang mengandung kadar gula yang sangat tinggi. Di luar negeri, kata dia, jenis minuman lainnya yang mengandung kadar gula tinggi yang dapat menimbulkan penyakit dalam jangka panjang sehingga membutuhkan biaya perawatan kesehatan pada masyarakat yang mengkonsumsinya dikenakan cukai yang cukup tinggi. Karena itu, sudah saatnya pemerintah Indonesia menerapkan cukai bagi produksi minuman minuman yang mengandung zat zat yang membahayakan kesehatan tubuh.

    Ditambahkan Berly, pemerintah juga perlu menerapkan cukai bagi plastik dan industri plastik. Alasannya plastik jangka pendek dan jangka Panjang menimbulkan pencemaran  lingkungan. Bahkan merusak lingkungan. Karena itu, untuk mengurangi penggunaan plastik, pemerintah perlu menerapkan cukai plastik. Penerapan biaya atas penggunaan plastik bukan hanya dilakukan oleh pengusaha atau pengelola super market dan sejenisnya kepada masyarakat sebagai konsumen, tapi harus dilakukan langsung oleh pemerintah. "Selain memberikan pemasukan yang besar bagi negara, juga akan membuat masyarakat meminimalisir penggunaan plastik," katanya.

    Sementara Sumantri Suwarno sependapat dengan Berly. Menurut alumni FEB UI ini, jika pemerintah jeli masih banyak sumber pendapatan negara yang belum digali dan dimanfaatkan oleh pemerintah menjadi sumber pendapatan negara yang dapat menutupi atau mengurangi defisit anggaran negara.

    Sumantri menyesalkan pemerintah yang terlalu banyak berkutat pada penarikan cukai di industri rokok atau tembakau. Sementara cukai di produk atau industri lainnya masih diabaikan. Menurut konsultan keuangan beberapa perusahaan property ini, industri tembakau  jangan terlalu diperas dengan mengenakan cukai yang terlalu berat atau kenaikannya berulang ulang. Sebab Industri rokok maupun tembakau selain memberikan pendapatan langsung bagi negara yang jumlahnya ratusan triliun juga menyerap lapangan pekerjaan  bagi rakyat .

    Di saat harga komoditi di tingkat dunia saat ini sedang mengalami penurunan, kata Sumantri, pemerintah memang harus lebih berhati-hati. Selain menghemat anggaran   pemerintah juga harus lebih kreatif dengan menggali potensi potensi cukai di sektor lain. "Industri lainnya yang belum dikenakan cukai, perlu dikenakan cukai. Sehingga tercipta keadilan bisnis dalam berusaha," katanya. (son)