Tekankan Konektivitas, Infrastruktur Angkutan Massal Segera Diperbaiki

    27
    SEMARANG (Bisnisjakarta)-
    Untuk mewujudkan konektivitas antar wilayah, diperlukan dukungan baik sarana maupun prasarana tramsportasi yang baik. "Untuk membuat konektivitas dan aksesibilitas antar kota semakin baik, jadi jika sebuah moda transportasi berhenti di suatu simpul, maka harus ada kelanjutannya, ada feedernya," kata Dirjen Perhubungan Darat Budi Setiyadi usai membuka kegiatan Dialog Publik Konektivitas Membangun Bangsa di Semarang, Rabu (10/7).

    Dirjen Budi melanjutkan, Menteri Perhubungan menekankan untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan moda transportasi angkutan berbasis jalan, baik sarana dalam arti kendaraannya, ataupun prasarana dalam arti terminalnya, dan harus mengejar ketertinggalan dibanding bandara dan stasiun kereta.

    Menurut Dirjen, selain secara fisik infrastrukturnya, terminal bus juga akan dibenahi sistemnya. Tuntutan masyarakat terkini, menginginkan adanya efektifitas dan efisiensi dalam pelayanan di terminal. "Jadi pembayaran cashless, harus mulai dilaksanakan," ujarnya seraya mengatakan, tahun 2020 Kemenhub akan memperbaiki 38 terminal di Indonesia, yang paling banyak memang ada di Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jawa Timur, namun di luar Jawa ada juga.

    Selain itu, angkutan massal perkotaan juga akan dibenahi. Skema buy the service akan dikembangkan. "Pemerintah akan menyediakan anggarannya, kemudian masyarakat yang akan menerima manfaatnya," jelas Dirjen Budi.

    Belakangan ini, polusi udara di Jakarta juga menjadi perhatian, kualitas udara di Jakarta menjadi semakin buruk. Hal tersebut disebabkan juga karena jumlah kendaraan bermotor yang semakin banyak. "Kalau kita ingin mengurangi pencemaran udara, kita juga ingin kualitas transportasi semakin efektif dan efisien, hemat penggunaan bahan bakar, saya mengajak masyarakat mendukung pemerintah dengan menggunakan angkutan umum," kata Dirjen Budi. "Pemerintah secara bertahap memperbaiki angkutan umum, diharapkan masyarakat juga membiasakan diri menggunakan angkutan umum," lanjutnya.

    Dialog Publik yang diikuti oleh sekitar 500 peserta yang terdiri dari mahasiswa, komunitas sepeda motor, netizen, dan generasi milenial tersebut dimaksudkan untuk mengedukasi masyarakat terkait program-program yang telah dilakukan pemerintah khususnya pada sektor transportasi darat.
    (son)