Untuk Kelangsungan Bisnis Keluarga, Cobalah Tips dari Universitas Prasetiya Mulya

    22
    JAKARTA (Bisnisjakarta)-
    Di era sekarang ini, banyak keluarga menjalankan bisnisnya demi menghidupkan perekonomiannya. Fenomena inilah yang dimanfaatkan Universitas Prasetiya Mulya untuk memberikan cara yang baik dalam menjalankan bisnis keluarga.

    Dalam seminar bertema ‘Next Generation Embracing Technological Changes’ menghadirkan Pramodita Sharma, Professor & Daniel Clark Sanders Chair dalam bidang Entrepreneurship & Family Business (Bisnis Keluarga) di Grossman School of Business, Universitas Vermont, USA.

    Selain itu, beberapa grup bisnis ternama Indonesia seperti Salam Subakat dari Wardah, Noni Purnomo dari Blue Bird Group, dan Teresa Wibowo dari Kawan Lama Group, hadir memberikan testimoni dan tips bagaimana menjalankan bisnis keluarga.

    Rektor Universitas Prasetiya Mulya Prof. Djisman Simandjuntak mengatakan, seminar bertujuan untuk menyampaikan dan memberikan masukan terhadap perkembangan bisnis keluarga di Indonesia, baik dari sisi akademisi maupun praktisi.

    Djisman berharap, adanya kegiatan ini dapat berlangsung secara berkesinambungan, dan dapat menciptakan kolaborasi pengetahuan. "Pengusaha-pengusaha di Indonesia harus tumbuh jauh lebih pesat. Karena bisnis keluarga memiliki poin lebih, seperti jika perusahaan mengalami krisis dan keluargalah yang bersama-sama menanggung,” paparnya.

    Sebagai narasumber, Professor & Daniel Clark Sanders Chair dalam bidang Entrepreneurship & Family Business di Grossman School of Business, Universitas Vermont Pramodita Sharma mengatakan, bisnis di Indonesia harus mengacu pada perusahaan di Eropa yang telah berdiri lama dan berhasil.

    Di sisi lain, dunia industri revolution 4.0 banyak yang beranggapan bahwa dunia bisnis menuju kehancuran, padahal treadmen seperti ini adalah salah besar, karena kehadiran dunia industri revolution 4.0 menjadi tantangan tersendiri bagi bisnis pariwisata.

    Dekan Sekolah Bisnis dan Ekonomi Universitas Prasetiya Mulya Prof. Agus W. Soehadi mengatakan, melalui homestay bisa dimanfaatkan dengan best practice telekomunikasi, service kebersihan, hingga service pelayanan yang nantinya bisa disejajarkan dengan dunia perhotelan. Otomatis membuat wisatawan kian memiliki banyak pilihan dalam berwisata. "Seharusnya upaya pemerintah jangan dibatasi pada infrastruktur fisik melainkan pada pelatihan kultur layanan, hygine, tepat waktu dan mestinya univesitas juga turut serta pada pleyanan yang menarik,” bebernya.

    Baginya, kehadiran industri digital tidak membuat pariwisata semakin lemah, melainkan bisa menjadikan bisnis pariwisata semakin hidup bertumbuh dengan pesat. Kesalahan tentu ada pada siklus bisnis itu sendiri. "Digital revolution akan memakan banyak lowongan kerja di dunia industri, maka waktu luang bertambah dan permintaan akan jasa pariwisata semakin naik. Dari pariwisata berbasis hedonisme ke pariwisata yang lebih reflektif atau pariwisata cultural dan itu harus dipelajari dengan baik,” bebernya.

    Baginya, pariwisata harus menjadi bagian sehingga bisa dijual kepada wisatawan, di mana dunia digital mendorong industri pariwisata di Indonesia semakin dikenal. Apalagi, Indonesia sangat unggul di bidang geografi yang luar biasa di Asean. "Indonesia pantas diposisikan sebagai lokasi pariwisata yang besar di dunia tetapi jangan terperangkap dalam hedonisme itu sendiri. Tak itu saja, pelaku sumber daya manusia bisa diaplikasikan ke dalam digital, di mana kultur bisa didesain dengan baik. Sebelum datang ke Indonesia harus tahu soal kultur Indonesia,”  paparnya. (son)